Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Inisiator Denpasar Film Festival (DFF)


Kehadiran Denpasar Film Festival pada 2010 --saat itu bernama Festival Film Dokumenter Bali (FFDB)-- dinisiasi oleh dua pegiat di bidang kreatif yakni Agung Bawantara dan Maria Ekaristi. Berikut profil mereka:

Agung Bawantara
Nama lengkapnya adalah Anak Agung Gede Rai Putra Bawantara. Semula aktif sebagai pekerja sosial di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tahun 1993 hengkang ke Jakarta untuk bekerja sebagai jurnalis di Tabloid Politik “DeTIK”. Pada 1995 mulai menekuni media audio-visual dan terlibat dalam banyak produksi film cerita dan dokumenter antara lain Oh Ibu dan Ayah Selamat Pagi (TV play), Cinta yang Kumau (serial televisi), Telegram, dan Marsinah. Sejak 2007 Nominee Penulis Skenario Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2004 ini mukim di Bali dan bergiat memajukan perfilman (dokumenter) di situ. Selain menekuni Film Dokumenter, juga giat menulis dongeng dan buku anak-anak antara lain 101 Dongeng Menakjubkan dari berbagai Negara dan Pendongeng Terkenal Dunia,  Tongkat Bicara Putri Saga dan 19 Dongeng Lainnya.  Bersama Maria Ekaristi menulis Pangeran Diponegoro Pahlawan dari Gua Selarong dan Khazanah Negeriku.

Maria Ekaristi
Dalam berbagai produksi film, Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Udayana, Denpasar, ini banyak berperan dalam urusan manajemen produksi. Ia antara lain pernah menjadi Location Manager untuk film iklan DOW Chamical- USA; Line Producer untuk film dokumenter  Bali Island of The Dogs; Location Manager untuk video clip Versus Media, Sidney; Local and Regional Production Manager untuk film Tarsius Towers produksi Artist In Motion; dan Local and Regional Production untuk  Living Prayer oleh Axis Mundi Foundation. Selain film. Eka juga menggeluti penulisan buku. Bukunya antara lain:  Jalan-jalan Bali, Khazanah Negeriku, dan Pangeran Diponegoro Pahlawan dari Gua Selarong.