"Lampion-lampion" Juara Festival Film Dokumenter Bali 2011




Film “Lampion-lampion” yang mengisahkan kehidupan masyarakat Desa Lampu di Kabupaten Bangli, memenangi lomba pada Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2011. Film dokumenter karya Dwitra J. Ariana yang didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangli itu mengisahkan kehidupan bertoleransi masyarakat suku Bali dan suku Tionghoa yang sudah berjalan turun temurun. Di desa tersebut, kedua suku tersebut hidup berdampingan secara rukun. Keduanya saling tolong menolong antara satu dengan yang lainnya. Sekalipun minoritas, masyarakat, Suku Tionghoa punya peluang yang sama dengan Suku Bali untuk menduduki jabatan puncak di banjar adat maupun di desa. Jika ada upacara adat Bali, masyarakat Suku Tionghoa berbaur dengan masyarakat Bali untuk melaksanakan dan merayakannya. Jika ada masyarakat Suku Tionghoa meningggal, masyarakat Suku Bali terjun membantu meringankan beban keluarga yang berduka. Dari sejak mebuat upakara hingga menggali liang lahat.

Berikut hasil lengkap Festival Film Dokumenter Bali (2011):
Kategori Umum: 
Juara 1: "Lampion-Lampion” karya Dwitra J. Ariana (Bangli, Bali)
Juara 2: "Opera Batak" karya Andi Hutagalung (Medan, Sumatera Utara)
Juara 3: "Seni Budaya Antara Realita dan Harapan” karya Putu Widana Yuniawahari  (Klungkung, Bali)
Juara Harapan: "Baris Jangkang" karya siswa SMKN 1 Mas Ubud (Gianyar, Bali).

Kategori Ponsel:
Juara 1: “Asal- usul Wong Perahu Desa Adat Merita” karya siswa SMK PGRI Karangasem.
Juara 2: tidak ada*
Juara 3: tidak ada* 

Bulan Okrober 2011, film dokumenter ini kembali dinobatkan sebagai film terbaik dalam Festival Film Kearifan Budaya Lokal yang diselenggarakan oleh Kementrian Budaya dan Pariwisata RI. Karya ini menyisihkan 106 film dari berbagai daerah. Sebagai Juara,  “Lampion-lampion”, berdampingan dengan "Baris Cina" karya  Gede Matrayasa  (Bali), “Wayang Kampung Sebelah” (Surakarta), “Bidadari Turun Bumi” (Andy Prasetyo, Tegal), “Menjejok Smong” (Onny Kresnawan, Medan) dan "Lengeser Santi” (Bowo Leksono, Purbalingga).   

Dalam Festival Film Indonseia (FFI) 2012, "Lampion-lampion" hanya berhasil tampil sebagai nominee film dokumenter terbaik. 



Tentang Dwitra J. Ariana
Lahir di Jeruk Mancingan, Bangli, 1 Juli 1983. Sebelum serius menggeluti media audio-visual ia aktif sebagai pemain  teater.  Dadap, demikian ia akrab disapa, telah menghasilkan cukup banyak karya dokumenter. Beberapa di antaranya melejit di berbagai festival seperti Festival Film Dokumenter (FFD) 2006 di Jogjakarta; Surabaya Film Festival (S13FFEST) 2007 di Surabaya; Ganesha Film Festival (GFF) 2008 di Bandung; dan  Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2011. 

Kini, selain terus berkarya dalam film dokumenter, Dwitra juga berprofesi sebagai petani. Di lading milik keluarganya di Bangli, ia memelihara puluhan Babi yang menjadi penyangga utama ekonomi keluarganya. Keduanya, bersinema dan bertani, dia jalani dengan riang dan penuh rasa bangga. Alamat e-mail Dwitra: dwitra_ariana@yahoo.com.


Read more...
Copyright © 2017 denpasarfilmfestival.com