Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Tentang Denpasar Film Festival

Denpasar Film Festival (DFF) bermula dari sebuah lomba film dokumenter dalam Pesta Kesenian Bali (PKB)1 2010. Lomba tersebut disponsori oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Saat itu lomba hanya menyakup daerah Bali saja dan diperuntukkan bagi pengembangan sineas lokal di bawah binaan dinas kebudayaan atau dinas pasriwisata di seluruh kabupaten/kota di Bali. 
Perjuangan untuk menghadirkan festival film di Bali, khusus-nya di ajang PKB sesungguhnya telah mulai sejak beberapa tahun sebelumnya. Beberapa kali pendekatan dilakukan oleh para pegiat film kepada Pemerintah Provinsi Bali, namun upaya itu tak kun-jung terwujud. Pada 2007 ketika beberapa peminat film di Bali secara mandiri kasak-kusuk berlatih membuat film, bahkan beberapa orang belajar secara serius di akademi film, menyuat wacana untuk menghelat acara perfilman di arena PKB.2 Menurut beberapa pemerhati, sudah selayaknya PKB menampilkan acara-acara kesenian di luar kesenian tradisional Bali. 
Namun wacana itu tak segera terealisasi sebab I Nyoman Nikanaya, Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali ketika itu, meragukan kesiapan sineas Bali untuk menjaga kesinambung-an perhelatan tersebut. Ia tak yakin akan ada karya-karya film baru yang layak dikonsumsi oleh publik penikmat seni di Bali.
“Film masuk PKB? Rasanya bukan sesuatu yang mustahil untuk direalisasikan. Semuanya tergantung dari seniman film di Bali, siap tidak mereka berkarya secara kontinyu?” ujar Nikanaya ragu.3
Pandangan Nikanaya itu didasari fakta bahwa sebelumnya pihaknya pernah menggelar acara kesenian non-tradisional seperti drama dan sastra modern di ajang PKB, namun acara-acara tersebut tak berkembang dan segera menghilang dalam satu-dua tahun kemudian karena tak mampu menjaga keberlanjutannya.
Sejauh itu, tak ada pegiat film atau kesenian yang beranjak menjawab keraguan Nikanaya tersebut, sampai akhirnya pada 2010 Agung Bawantara dan Maria Ekaristi dari Yayasan Bali Gumanti berhasil meyakinkan pemegang kebijakan di Bali untuk menjadikan film sebagai mata acara PKB.
Seperti telah disampaikan di muka, Agung dan Eka adalah mantan pengelola sebuah stasiun televisi swasta di Denpasar yang oleh  Disbud Provinsi Bali diminta memproduksi sebuah film dokumenter untuk disertakan dalam Lomba Film Dokumenter tentang kearifan budaya lokal yang diselenggarakan oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata  (Kemenbudpar) RI.
Alih-alih langsung menerimanya, Agung dan Eka justru me-nawarkan gagasan kerja sama menyelenggarakan lomba film do-kumenter bertema kearifan budaya lokal yang momentumnya ditepatkan pada pelaksanaan PKB.  Dalam presentasinya Agung dan Eka beralasan bahwa dalam situasi perfilman di Bali seperti saat itu penyelenggaraan lomba film dokumenter yang  diawali dengan pelatihan akan jauh lebih bermanfaat bagi pengembangan perfilman di Bali di masa depan. Menurut mereka, kegiatan itu memiliki beberapa keuntungan. Pertama, dapat menjadi sarana pemetaan terhadap animo dan potensi masyarakat di bidang perfilman. Kedua, membuka kemungkinan munculnya beberapa karya yang baik dari masyarakat. Ketiga, sebagai salah satu sarana untuk menumbuhkan kegairahan masyarakat untuk menggeluti film (dokumenter) yang dalam kepentingan yang lebih luas sangat diperlukan oleh Bali.
Dr. Ida Bagus Sedawa, sebagai Kepala Disbud Provinsi Bali saat itu menganggap usulan itu masuk akal dan menyetujuinya. Ia menginstruksikan jajarannya agar memasukkan film sebagai salah satu mata acara pada PKB.Mempertimbangkan kesinam-bungan dan korelasinya terhadap program-program   Disbud sendiri, Dr. Sedawa memutuskan lomba, pelatihan, dan pemutaran film di arena PKB untuk lima tahun pertama adalah jenis film dokumenter.4
Rupanya prediksi-prediksi saat pematangan konsep festival film dokumenter di PKB itu benar adanya. Kegiatan tersebut berhasil menyuatkan minat para pecinta film dokumenter di Bali untuk turut berlomba (baca: berkarya).  Ada 14 film dokumenter dari seluruh kabupaten/kota di Bali turut ambil bagian dalam gelaran pertama itu. Padahal target yang ditetapkan hanya sembilan film dokumenter dari para pembuat film yang ditunjuk oleh Dinas Kebudayaan di masing-masing kabupaten/kota.5 
Terlibatnya seluruh dinas kebudayaan kabupaten/kota di Bali dalam lomba tersebut karena Dr. Sedawa menginstruksikan hal itu sebagai momentum pembinaan sekaligus upaya mengangkat kearifan budaya di masing-masing kabupaten. Sebagai stimulan, kepada dinas-dinas tersebut pihaknya menggelontor dana produksi sebesar Rp5 juta.
Bagi kabupaten/kota yang tak menunjukkan minat untuk turut serta, Dr. Sedawa meminta pada jajarannya untuk menunjuk seorang pembuat film, entah dari Kota Denpasar atau kabupaten setempat, untuk membuat film dokumenter sesuai tema lomba atas nama dinas kebudayaan kabupaten bersangkutan. Jika film tersebut kemudian muncul sebagai juara, maka yang mendapat hadiah dan nama harum adalah kabupaten bersangkutan. Sekalipun mereka tak melakukan produksi sama sekali. Melihat kesungguhan Dr. Sedawa, seluruh dinas kebudayaan di Bali ter-pacu memproduksi film dokumenter dan menyertakan karyanya dalam lomba di PKB. Sebelumnya, mereka mengirimkan para peminat film dokumenter untuk mengikuti pelatihan produksi yang merupakan satu kesatuan program dari lomba ini.
Setelah diseleksi dan dikurasi oleh para juri,  sepuluh film pe-serta terbaik diputar untuk publik di salah satu venue PKB setiap akhir pekan. Sayangnya, karena publikasi yang kurang memadai, pemutaran film pada helatan pertama itu sepi penonton serius. Penonton yang datang sebagian besar mereka yang iseng masuk ke arena pemutaran. Mereka hanya menikmati tayangan itu beberapa menit saja sebelum beranjak menuju venue pertunjukan lainnya.  
Meski begitu, ketika seluruh karya itu disertakan dalam Lomba Film Dokumenter Kearifan Budaya Lokal 2010 oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata  RI, karya-karya dari Bali mendominasi lomba dengan merebut peringkat satu (Topeng Dalem Sidakarya karya I Ketut Nurai),  peringkat dua (Janger Kolok), dan peringkat empat (Swadharmaning Jro Gde Ring Batur).
Sukses itu membuat Dr. Sedawa bersemangat untuk lebih mematangkan konsep penyelenggaraan di tahun berikutnya. Juga konsep kerjasama penyelenggaraannya.  Hasilnya, pada tahun kedua cakupan lomba yang semula hanya untuk daerah Bali saja, diperlebar menjadi tingkat nasional dengan nama Festival Film Dokumenter Bali (FFDB). Aktivitasnya pun bertambah. Selain lomba dan pemutaran, juga ada pelatihan dan jumpa maestro. Juri-juri yang dilibatkan pun berkaliber nasional bahkan inter-nasional, antara lain  Slamet Rahardjo Djarot, Rio Helmi  dan Dr. Lawrence Blair.
Panitia juga menunjuk figur terkenal di kalangan perfilman sebagai duta untuk menggaungkan festival ini ke seluruh Indo-nesia. Figur yang dipilih panitia adalah artis Happy Salma yang saat itu getol mendalami seni teater dan film dokumenter.
Sayangnya, sebelum seluruh konsep pengembangan festival ini terlaksana, terjadi pergantian kepemimpinan di Disbud Pro-vinsi Bali. Kepala dinas yang baru menganulir konsep pengem-bangan yang sudah dirancang sebelumnya. Secara implisit ia mengarahkan agar festival tersebut cukup hanya sebagai sarana pembinaan dan apresiasi untuk lingkup Provinsi Bali saja.  Namun karena segala persiapan telah berjalan di mana semua juri telah dihubungi dan berita tentang itu sudah tersiar ke publik, festival itu pun tetap berjalan seperti yang dikonsepkan.
Pada saat itu lomba dibagi menjadi dua kategori, Kategori Umum dan Kategoti Ponsel. Kategori pertama diperuntukkan bagi mereka para profesional, sedangkan kategori kedua diper-untukkan bagi amatir yang membuat karya dokumenter mereka  dengan kamera yang terdapat pada telepon seluler. Semangat yang melatarbelakangi kategori ini adalah menyadarkan anak-anak muda di Bali agar mau memanfaatkan peralatan yang mereka genggam sehari-hari untuk membuat film dokumenter atau karya kreatif lainnya.
Dari  34 karya yang disertakan pada festival tahun itu,  Lampion-lampion karya Dwitra J. Ariana terpilih sebagai juara Kategori Umum dan  Asal-usul Wong Perahu di Desa Adat Merita  sebagai juara Kategori Ponsel. Belakangan film Lampion-lampion tampil juga sebagai film terbaik Lomba Film Dokumenter Kearifan Budaya Lokal 2011 yang diselenggarakan koleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI,elakangan film Lampion-lampion tampil juga sebagai film terbaik Lomba Film Dokumenter Kea-rifan Budaya Lokal 2011 yang diselenggarakan koleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI bersama Film Pemenang FFDB 2011 yang lain,  yakni Opera Batak  dan Baris Cina yang muncul sebagai juara dua  dan tiga.  Lampion-lampion juga terpilih sebagai  film terbaik Kompetisi Film Dokumenter - Documentary Days 2011 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia. Juga menjadi unggulan film terbaik kategori doku-menter pada Festival Film Indonesia (FFI) tahun yang sama.
Dalam formasi lengkap, juri  FFDB 2011 adalah Slamet Rahardjo Djarot, Dr. Sir Lawrence Blair, Rio Helmi, Prof. I Wayan Dibia, dan Hadi Artomo. Untuk menggaungkan acara ini, panitia menunjuk aktris terkenal Indonesia Happy Salma sebagai duta.

Ganti Nama
PADA tahun berikutnya FFDB diselenggarakan sendiri oleh Yayasan Bali Gumanti. Ia tak lagi menjadi  agenda acara dalam PKB.  Pendanaannya disokong oleh Pemerintah Kota Denpasar dan Arti Foundation.
Disbud Provinsi Bali sendiri tetap menyelenggarakan Lomba Film Dokumenter dalam ajang PKB namun cakupan pesertanya hanya untuk Provinsi Bali saja.5 
Berbeda dari pelaksaan tahun sebelumnya, dalam FFDB kali ini Panitia tidak lagi menentapkan beberapa juara yang diurut dari satu hingga enam, melainkan menetapkan lima film unggulan. Satu di antaranya ditetapkan sebagai film terbaik yang berhak mendapat hadiah trofi dan uang tunai sebesar Rp20juta. Empat nominee yang tesisih, semua mendapat uang tunai dalam jumlah yang sama yakni sebesar Rp3,5juta.
Pelaksanaan FFDB pada tahun 2012 itu digelar di dua tempat yakni Auditorium STIKOM Bali dan  Aerowisata Sanur Beach Hotel, Sanur, Denpasar. Para Juri dalam festival ini adalah Slamet Rahardjo Djarot, Dr. Sir Lawrence Blair, Rio Helmi, Prof. I Made Bandem, dan IGP Wiranegara. Sebagai duta, panitia menunjuk aktris Marcella Zalianty.
Tampil sebagai film terbaik pada tahun itu adalah  Permata di Tengah Danau karya Andi Hutagalung (Medan, Sumatera Utara). Film tersebut menyisihkan empat nominee yakni  Leng Apa Jengger (Bowo Leksono - Purbalingga, Jawa Tengah);  Subak Pancoran, Sinar kecil di Kaki Bukit (Putu Satria Kusuma - Singaraja, Bali),  I Made Taro Benteng Terakhir Permainan Rakyat Bali (Sigit Purwono - Denpasar, Bali); dan  Burdah  (I Komang Sukayasa  - Karang Asem, Bali). Sementara  Bali-Heaven on Earth karya Ivander Aditya (Surabaya, Jawa Timur) mendapatkan penghargaan khusus atas pencapaian olah tekniknya. Semua karya tersebut diputar untuk publik bersama enam karya terpilih lainnya. Pada saat itu diputar pula film tamu berjudul Indonesia – Democracy, How so Far? karya Baudouin Koenig (Prancis).
Pada 2013, berdasar berbagai pertimbangan, nama festival ini diganti menjadi Denpasar Film Festival (DFF).  Dengan soko-ngan dari Pemerintah Kota Denpasar, penyelenggara DFF mem-buat rancangan strategis lima tahunan agar pengembangan dapat terus dilakukan secara bertahap dari tahun ke tahun. Untuk menjaga konsistensi langkah pengembangan itu, penyelenggara DFF memilih lima juri tetap sebagai “pengawal”. Keberadaan para juri itu tak sekadar sebagai penilai karya yang dilombakan setiap tahunnya, melainkan sebagai pemberi pertimbangan kepada penyelenggara dalam menggerakkan festival ini ke arah kemajuan. Para juri tersebut adalah Slamet Rahardjo Djarot, Dr. Lawrence Blair, Rio Helmi, Prof. Dr. I Made Bandem, dan I Wayan Juniartha. Komposisi lima juri tetap tersebut dipilih berdasarkan kapasitas masing-masing sebagai praktisi, akademisi, pemerhati budaya, dan jurnalis yang merupakan representasi sikap kritis masyarakat film dokumenter di Bali (baca: Indonesia).
Tahun itu ada 68 film dokumenter karya sineas dari berbagai kota di Indonesia turut berkompetisi dalam DFF 2013.  Karya-karya tersebut berasal dari Bali dan dari berbagai kota di Indonesia seperti Banda Aceh, Medan, Sijunjung, Bandar Lampung, Batam, Tangerang, Bandung, Cimahi, Cirebon, Sleman, Jakarta, Purba-lingga, Solo, Lumajang, Malang, Samarinda, Bantul, Mataram, dan Baubau.  Dari Bali sendiri karya-karya  tersebut berasal dari Buleleng, Badung, Denpasar, Bangli, Gianyar, Klungkung, dan Amlapura.
Tampil sebagai Film Dokumenter terbaik pada DFF 2013 adalah Ragat’e Anak karya Ucu Agustin (Jakarta). Film tersebut menyisihkan empat film unggulan lainnya yakni  The Man Comes Around (Adih Saputra, Yogyakarta), Orang Laut (Nur Handoyo, Jakarta),  Persona (George Arif, Jakarta), dan Di Batas Kekuasaan (Nur Fitria Napiz, Jakarta). Kepada film The Man Comes Around Juri memberi penghargaan khusus atas capaian teknisnya yang sangat baik. 

Pengembangan Program
MEMASUKI 2014, untuk tetap menjaga kegairahan bersinema (khususnya dokumenter), sejak awal tahun DFF menggelar acara pemutaran reguler bertajuk Cine Garden, diselenggarakan di Antida Sound Garden, Jalan Waribang, Denpasar Timur.
Antida  Sound Garden adalah sebuah studio rekaman musik yang menjadi salah satu kantong kreativitas di Kota Denpasar. Motor penggeraknya adalah Agung Anom Darsana, seorang sound engineer yang kerap mendukung pementasan musik kaliber internasional di berbagai negara. Dari studio rekaman ini lahir hampir seluruh musisi Bali yang kemudian turut mewarnai blantika musik Nasional seperti Superman Is Dead, Navicula, The Hydrant, No Stress, dan lain-lain.    
Bergandengan tangan dalam penyelenggaraan, setiap bulan film-film unggulan DFF 2013 diputar di tempat itu disertai pertunjukan musik dengan genre yang sesuai tema film yang diputar dan diskusi (bedah karya) yang digelar. Bagi Antida Sound Garden, ini merupakan sumbangsihnya untuk pertumbuhan kesenian modern di Bali. Sedangkan bagi DFF sendiri, pemutaran ini merupakan rangkaian panjang dari persiapannya menuju pe-nyelenggaraan DFF berikutnya.
Pada 2014, DFF mengembangkan diri dengan melakukan pe-nambahan mata acara berupa pameran foto esai.  Pameran ini menghadirkan karya-karya fotografer muda berbakat yang ter-gabung dalam kelompok Project 88. Mereka adalah Anggara Mahendra, Jeje Prima Wardani, Johanes P. Christo, dan Syafiudin Vifick. 
Project 88 sendiri merupakan konsep bertutur menggunakan delapan foto yang dilengkapi delapan alenia narasi. Konsep ini diperkenalkan juga sebagai “setahap menuju film dokumen-ter”. Mulanya hal ini merupakan sebuah upaya lebih mendekatkan fotografi dengan film dokumenter. Upaya ini dilatari oleh  kerapnya terjadi hambatan pada para peminat pemula yang ingin membuat film dokumenter. Diperlukannya beberapa prasyarat dalam produksi film dokumenter membuat para pemula tak dapat membuat karya dalam langkah yang terstruktur secara benar pada produksi pertama mereka. Kerap kali hal ini menjadi pematah semangat bagi para pendatang baru itu.
Berangkat dari kenyataan itu,  DFF mengajak keempat fotografer di atas untuk bersinergi mengatasi kendala tersebut. Dari sinergi itu lahirlah konsep Project 88 ini yakni sebuah esai mengenai sebuah isu, situasi, atau keadaan yang dituturkan dengan delapan alenia naskah (teks) dan delapan foto.  Bagi pemula, konsep ini boleh dikata merupakan tahapan langkah yang lebih mudah menuju produksi film dokumenter.  Bagi profesional, konsep ini merupakan alternatif bertutur yang memberi ruang yang seimbang antara fotografi dan teks.
Pada pameran perdananya itu, Project 88 menghadirkan esai foto bertajuk Ritual.
Selain berpameran, Projet 88 memberi pelatihan kepada para pelajar SMP dan SMA tentang bagaimana membuat foto esai. Pelatihan ini berbarengan dengan pelatihan produksi film dokumenter yang menghadirkan AS. Laksana (penulis fiksi terbaik versi Majalah Tempo tahun 2004 dan 2013)  dan Faozan Rizal (Director of Photography kenamaan Indonesia yang sukses menyu-tradarai film Habibie Ainun).
Pada pelatihan itu peserta mendapat dua materi sekaligus: pembuatan foto esai dan produksi film dokumenter. Praktek pembuatan foto esai dilakukan pada saat itu juga. Hasilnya dibedah melalui dua sudut pandang pula.  AS Laksana dan Faozan Rizal membedahnya dari sudut pandang film dokumenter, sementara para fotografer Project 88 membedahnya dari sudut pandang foto esai.
Untuk praktek produksi film dokumenter, dilakukan di hari lain dengan pendampingan dari tim DFF. Hasil produksi tersebut lalu diseleksi dan karya terbaik ditetapkan sebagai Duta Kota Denpasar dalam lomba film dokumenter yang diselenggarakan oleh The Organization of World Heritage Cities (OWHC).
Hasilnya, Layang-layang karyaResha Arundari (SMPN 3 Den-pasar) dan Warisan Nak Lingsir karya Made Arya Wibawa (SMAN 3 Denpasar) tampil sebagai finalis masing-masing untuk kategori 14-17 tahun dan kategori 18-21 tahun.
Pada program utama yakni Lomba Film Dokumenter, animo peserta tetap besar seperti tahun-tahun sebelumnya. Tercatat tak kurang dari 45 pegiat film dokumenter dari berbagai daerah di Tanah Air mengirimkan karya ke kompetisi ini.  Tampil sebagai film terbaik DFF 2014 adalah  Tumiran7 karya Vicky Hendri Kurniawan (Banyuwangi).  Tumiran  meng-ungguli lima film unggulan lain yakni  Apa Kabar Potehi8 (Ari Mendrofa, Bandung), Jamu Laut9 (Andi Hutagalung, Medan), Berni Meraung (Agung S. Rohutomo, Jember), dan Pesisir Harapan (Nurazaz Ramdany, Jakarta). 
Dalam pidato pertanggungjawabannya10, Ketua Dewan Juri, Slamet Rahardjo Djarot, mengatakan bahwa film-film Doku-menter yang diunggulkan pada DFF 2014 kali itu hadir dengan kejelasan “semiotika sinematografi” serta menunjukkan ketram-pilan teknik dan estetika  yang meyakinkan.  
Dewan Juri  juga memberi penghargaan khusus kepada  film Jamu  Laut (Andi Hutagalung) yang menonjol dalam  teknik pe-nyuntingan dan Apa Kabar Potehi  untuk tata sinematografi.  

Di tahun 2015, pada penyelenggaraan keenam,  DFF kembali melakukan pengembangan program dengan menyelenggarakan program hibah dana produksi sebesar Rp25 juta bagi sineas yang berhasil lolos seleksi untuk membuat film dokumenter sesuai dengan tema DFF yakni Air dan Peradaban. Dalam program hibah dana produksi tersebut, selain mendapatkan uang tunai, pemenang seleksi juga mendapat pendampingan produksi dari para ahli yang telah dipersiapkan oleh panitia. Terpilih sebagai pemenang dalam seleksi itu adalah Dwitra J. Ariana.
Sementara itu, program lama tetap berjalan seperti sebelumnya. Pelatihan produksi film tetap dilaksanakan di STIKOM Bali dengan instruktur Tonny A. Trimarsanto, seorang pegiat film dokumenter yang telah memenangi sedikitnya lima penghargaan internasional di bidang film dokumenter. Peserta pelatihan adalah siswa dan mahasiswa terpilih dari berbagai SMA dan perguruan tinggi di Kota Denpasar.
Untuk Project 88, karya-karya foto esai yang mereka gelar tahun ini bertema Air dalam Simbol. Pameran digelar di Rumah Sanur – Creative Hub, Jalan Danau Poso, Denpasar Selatan, yakni sebuah hub yang mempertmukan beregam kreativitas guna membangun sinergi atau saling memberi sokongan dalam me-lahirkan karya-karya kreatif. Di  tempat itu sekaligus diseleng-garakan pemutaran film-film unggulan DFF 2015 dan serangkaian diskusi berkait tema festival.Diskusi-diskusi tersebut menyakup diskusi foto esai, diskusi sosial-budaya mengenai air dan kaitannya dengan peradaban manusia, serta diskusi film membedah karya-karya yang diputar baik dari segi teknis maupun konten.
Mengenai diskusi sosial-budaya berkait isu air, pelaksanaannya dilakukan sebanyak tiga kali di dua tempat. Yang pertama di Aula Gedung PHRI Bali pada 14 April 2015, bertema Pariwisata dan Ancaman Krisis Air Bersih di Bali  menghadirkan Dr. Stroma Cole (peneliti dari University of the West of England), Dr. Tjokorda Artha Ardhana Sukawati (Ketua PHRI Bali), dan Ir. Putu Gede Mahaputra, MM (Direktur PDAM Denpasar).
 Diskusi kedua dan ketiga, diselenggarakan di Rumah sanur – Creative Hub pada 14-15 Agustus 2015, masing-masing dengan topik Air dan Peradaban Bali dan Air, Kopi & Indonesia Kita. Pada diskusi kedua, tampil sebagai narasumber para pemerhati Budaya Bali yakni Cok Sawitri, Sugi Lanus, dan I Wayan Juniartha. Sedang-kan diksusi hari ke-tiga, tampil sebagai narasumber adalah Arif Budiman (Pendiri Kopi Kultur).Seluruh makalah dan resume diskusi dikompilasi dan dibukukan untuk diteruskan sebagai semacam rekomendasi bagi pihak-pihak yang berkompeten.
 Pada lomba film dokumenter pun terjadi penguatan dengan bertambahnya anggota dewan juri dari yang semula lima orang menjadi enam. Wajah baru dalam jajaran juri DFF itu adalah Bre Redana, jurnalis senior di Harian Kompas.
Ironisnya, penyelenggaraan yang menunjukkan tendensi peningkatan kualitas itu tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas pada karya-karya peserta lomba. Jika pada tahun sebelumnya dewan juri kesulitan memilih juara karena berhimpitannya kualitas karya-karya itu dengan nilai baik, kini yang terjadi sebaliknya. Dari 66 karya yang diterima panitia, sebagian besar berada tak jauh dari standar minimal sebuah karya gemilang.11 Tak jelas apa penyebab “paceklik” karya bagus itu. Ada dugaan hal itu disebabkan karena tahun ini beberapa sineas berkualitas sedang dalam proses produksi. Mereka belum siap mengirimkan karyanya ke festival mana pun termasuk DFF.
Tampil sebagai film terbaik DFF 2015 adalah Di atas Air dan Batu karya Bowo Leksono (Purbalingga). Film ini mengalahkan empat film unggulan lainnya yakni Bersama Lupus (Galih Seta Dananjati, Denpasar), Hamemayu Hayuning Bawana (Diyah Verakandi, Yogyakarta), Kakek si Pemburu Lebah (Gede Seen, Buleleng), dan Lasem, Balada Kampung Naga (M. Iskandar Tri Gunawan, Yogyakarta). 
Apa pun, menaik atau pun menurun, itulah wajah enam tahun perjalanan Denpasar Film Festival sebagai sebuah ikhtiar  mengarahkan dan meningkatkan kreativitas masyarakat perfilman di Bali dan sebagai bentuk partisipasi memajukan perfilman di Tanah Air.