Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Film Ragat'e Anak Menangi Denpasar Film Festival 2013

Daniel Rudi wakili Ucu Agustin menerima tropi dari Denpasar Film Festival 2013. TEMPO/Rofiqi Hasan

Film Ragat'e Anak karya sutradara Ucu Agustin tampil sebagai Film Terbaik Denpasar Film Festival (DFF) 2013. Film yang berkisah tentang Nur dan Mira yang berjuang untuk memberi masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka dengan bekerja sebagai pemecah batu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Nur dan Mira bekerja sebagai pekerja seks komersil di malam harinya di area prostitusi liar di Kuburan Cina, Gunung Bolo.

Film yang sarat pesan sosial ini menyisihkan empat film unggulan lainnya, yakni Di Batas Kekuasaan (Nur Fitriah Napiz), Orang Laut (Nur Handoyo), Personal (George Arif), dan The Man Comes Around (Adih Saputra). Acara Penganugerahan pemenang diselenggarakan di Inna Balo Hotel, Denpasar.

Sebagai Film Terbaik, Ragat'e Anak berhak membawa pulang hadiah berupa trofi dan uang tunai sebesar Rp 20 juta. Selain Ragat'e Anak, dewan juri yang terdiri dari Slamet Rahardjo Djarot, Prof Dr I Made Bandem, Rio Hemi, Dr Lawrence Blair, dan I Wayan Juniartha juga memberi penghargaan khusus kepada film The Man Comes Around atas pencapaian teknik sinematografinya yang baik.

Malam itu, diserahkan juga hadiah kepada tiga Film Terbaik untuk Kategori Lokal, yakni Danau Gulma (I Putu Oka Sudarsana), Di Balik Topeng Bondres, (Putu Satria Kusuma), dan Amelia (Sigit Purwono).


Mengenai kemenangan itu, dewan juri yang diketuai Slamet Rahardjo mengatakan bahwa peniliaian berdasarkan pada Contents, Context, dan Impact setiap film yang dianalisis secara intensif dari berbagai sudut pandang dan pada tahap awal penilaian. "Kami memilih lima film yang memenuhi persyaratan," kata Slamet. "Dewan juri melakukan penilaian terakhir, dan kami memutuskan dari lima film tersebut, terpilihlah satu Film Terbaik dan satu Film Pilihan Khusus (menurut) dewan juri karena memiliki keterampilan teknik yang baik," ujarnya.

Menurut dia, festival yang sudah berlangsung keempat kalinya itu sudah memilik kemajuan pesat, sehingga mereka tidak banyak lagi berfokus pada sisi teknik bercerita tapi sudah ke penghayatan.

ROFIQI HASAN