Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Juri Denpasar Film Festival 2018

Suasana Penjurian Denpasar Film Festival
Juri Denpasar Film Festival adalah tokoh-tokoh kredibel yang dipilih oleh panitia karena dianggap mumpuni sekaligus menjadi representasi dari kelompok-kelompok masyarakat. Dengan begitu, hasil penilaian yang mereka hasilkan mendekati gambaran senyatanya dalam masyarakat kita, Untuk tahun 2018 Panitia menetapkan nama-nama berikut sebagai anggota Dewan Juri:


Panji Wibowo adalah sutradara puluhan film pendek, dokumenter, video musik, dan pariwara. Dia adalah pemikir film yang mendalami ilmu perfilman sejak berkuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sekaligus di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakara, Jakarta. Kini lebih banyak menyurahkan perhatiaan untuk mengembangkan ilmu perfilman di Indonesia melalui pelatihan-pelatihan khususnya bagi para pemula. Modulnya mengenai produksi film telah digunakan oleh Pusat Pengembangan (Pusbang) Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam berbagai pelatihan sejak beberapa tahun lalu.
Panji kerap menjadi kurator atau juri di berbagai festival film dan kerap menulis ulasan (filosofis) mengenai film. Tulisannya, Gerak-Waktu-Imaji: Gilles Deleuze dalam Sinema yang dimuat dalam majalah “Driyarkara” (2002) merupakan satu dari sedikit ulasan filsafat yang ditulis oleh pemikir film Indonesia.


Slamet Rahardjo Djarot adalah aktor-sutradara senior Indonesia. Memulai debut pada 1968 di bawah arahan Sutradara Teguh Karya.  Film yang dibintangi atau disutradarainya antara lain: Ranjang Pengantin (1974), Badai Pasti Berlalu (1977), November 1828 (1978), Rembulan dan Matahari (1980), Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1982), Ponirah Terpidana (1983), Kembang Kertas (1985), Kodrat (1986), Kasmaran (1987), Tjoet Nja’ Dhien (1988), Langitku Rumahku (1990), Fatamorgana (1992), Anak Hilang (1993), Telegram (2000), Pasir Berbisik (2001),  Putri Gunung Ledang (2004), Banyu Biru (2005), Ruang (2006), Badai Pasti Berlalu (2007), Laskar Pelangi (2008), dan Sang Pencerah (2010). Slamet meraih Piala Citra  sebagai Aktor Terbaik FFI 1974 dan 1977 dalam film Ranjang Pengantin dan Badai Pasti Berlalu  dan untuk karyanya yang berjudul Rembulan dan Matahari (1980).

Slamet sangat piawai memancing obrolan. Karena itu sebuah stasiun TV swasta di Jakarta memilihnya menjadi pemeran Ndoro Sentilan dalam acara dialog sosial bergaya komedi Sentilan-Sentilun yang kini sudah tayang lebih dari 200 episode.


Rio Helmi  adalah penulis dan fotografer. Menjadi juri DFF sejak 2011. Karya-karya Rio banyak dimuat di majalah National Geographic. Rio mulai bekerja sebagai fotografer profesional sejak 1978. Ia pernah bekerja  sebagai wartawan foto dan penulis pada Sunday Bali Post, Mutiara, dan Tempo. Sebagian besar liputan tersebut berkisar tentang masyarakat terasing yang mulai ber-sentuhan dengan dunia modern.  Rio beberapa kali terlibat dalam produksi film dokumenter. Satu di antaranya adalah Lempad of Bali. Sejak 1983 Rio bekerja freelance untuk berbagai majalah regional membuat reportase dan foto di berbagai negara seperti Brunei, Malaysia, Singapore, Thailand, Filipina, India, Mongolia, dan Cambodia. Beberapa buku Rio yang telah terbit antara lain Over Indonesia: Aerial Views of the Archipelago  (ditulis bersama Michael Vatikiotis dan Georg Gerster),  Worshipping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java (bersama Marijke J. Klokke,  dan Ann R. Kinney),  Bali Style,  Bali High: Paradise from the Air (bersama  Leonard Lueras), dan  River of gems : a Borneo journal (bersama  Lorne Blair dan Leonard Lueras). Website Rio Helmi


Prof. Dr. I Made Bandem menjadi juri DFF sejak 2012. Bandem adalah penari Bali, penulis, pendidik, dan pemerhati budaya.  Dialah penari Bali pertama yang ber-studi di luar negeri. Memperoleh gelar master dalam tari dari UCLA, dan gelar PhD dalam etnomusikologi dari Universitas Wesleyan. Keduanya di  Amerika Serikat.  Di Bali, Ban-dem dikenal sebagai budayawan yang me-miliki pandangan luas mengenai pelestarian dan pengembangan kesenian. Bersama dengan Prof Dr Ida Bagus Mantra, Gubernur Bali (1978-1988), Bandem adalah salah satu pendiri Pesta Kesenian Bali, acara tahunan yang menjadi model untuk pelestarian dan pengem-bangan seni dan budaya Bali. Bandem memiliki kepedulian pada pendokumentasian kebudayaan Bali. Puluhan film dokumenter Bali tempo dulu ada di tangannya.


I Wayan Juniartha menjadi juri DFF sejak 2013. Jurnalis dan pemikir sosial budaya ini pernah berkuliah di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar. Sempat selama beberapa tahun menjadi wartawan Harian Kompas.Kini bergabung dengan harian The Jakarta Post dan menjadi koordinator liputan untuk wilayah Bali dan sekitarnya. Karena perspektif dan ulasannya yang sangat baik, Juniartha kerap diminta terlibat dalam berbagai forum internasional tentang kebudayaan. Ia adalah salah satu tokoh yang banyak berperan dalam persiapan World Culture Forum yang dihelat di Bali pada 2013.  Juniartha juga memegang peran penting dalam penyelenggaraan Ubud Writer and Reader Festival, sebuah ajang tahunan bergengsi dalam perbukuan yang telah dihelat lebih dari satu dekade.Kumpulan esai berbahasa Balinya, Bungklang-Bungkling, memenangi Anugerah Widya Pataka dari Pemerintah Provinsi Bali.


Bre Redana mulai menjadi juri DFF pada 2015.  Bre bekerja di Harian Kompas sejak tahun 1982. Sepanjang kariernya sebagai wartawan keba-nyakan meliput dan menulis bidang kebu-dayaan. Pernah beberapa tahun menjadi Kepala Desk Kebudayaan pada Kompas Minggu. Sekarang menjadi wartawan senior bidang kebudayaan. Pendidikan terakhir: School of Journalism, Darlington College of Technology, United Kingdom. Tak kurang dari delapan buku telah ia terbitkan. Buku-buku tersebut terdiri dari kumpulan cerita pendek (Urban Sensation!, Dongeng untuk Seorang Wanita, Sarabande, dan Rex), novel (Blues Merbabu dan 65), serta kumpulan esai dan artikel (Potret Manusia Sebagai si Anak Kebudayaan Massa).  Buku lainnya, Aku Bersilat, Aku Ada dan Dawai-Dawai Dewa Budjana.