Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Cine Garden#6 : Film Musik "Kantata Takwa"

Suasana pemutaran "Kantata Takwa"
Kelompok Pembuat dan Pecinta Film (KPPF) Denpasar tergabung dalam MolasArt manajemen memutar  film dokumenter musik “Kantata Takwa” karya sutradara Erros Djarot dan Gotot Prakosa.

Pemutaran akan digelar dalam sebuah even bernama Tanjung Bungkak Art Camp  yang berlangsung pada 14-15 Juni di Taman Jepun, Tanjung Bungkak, Denpasar.

“Kantata Takwa”  adalah film dokumenter musikal Indonesia yang dirilis pada tahun 2008.  Film arahan sutradara Eros Djarot dan Gotot Prakosa ini  dibuat berdasarkan konser akbar proyek seni Kantata Takwa di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, tahun 1991. Dibuat di era Orde Baru yang represif, produksi film ini mengalami banyak kesulitan. Tentu karena sarat dengan kritik sosial politik yang  tajam. Tak pelak produksi film ini memakan waktu 18 tahun.

Konser akbar  “Kantata Takwa”  sendiri didukung oleh penyair besar  Indonesia WS Rendra (alm) dan musisi-musisi kawakan seperti Iwan Fals, Sawung Jabo, Jockie Surjoprajogo, dan Setiawan Djodi. Konser itu sendiri hanya  terselenggara  sekali saja sebab  penyelenggaraan yang kedua  di Surabaya dilarang oleh Pemerintah Orde Baru.

Namun begitu Erros Djarot tak menyerah. Bersama Gotot Prakosa ia berupaya sekuat tenaga untuk merampungkan materi-materi syuting dari konser ini, baik yang di panggung maupun di luar panggung, menjadi sebuah rangkaian  film dokumenter yang menyarakan gelora perlawanan.
 
Erros dan Gotot merangkai rekaman-rekaman gambar yang telah ia buat menjadi sebuah puisi kesaksian dari para seniman Indonesia tentang kerasnya represi rezim Orde Baru dalam memenkan kebebasan berekspresi. Juga kesakisan tentang sebuah masa yang penuh dengan praktik korupsi, kolusi, nepotisme,  penangkapan, penculikan, bahkan pembunuhan  aktivis yang  berbeda ideologi dengan  penguasa saat itu.

Karena itulah dalam film  ini terdapat adegan-adegan tragis yang memvisualisasikan sajak WS Rendra. Dalam (musikalisasi) puisi  “Kesaksian”, misalnya, tergambar bagaimana orang-orang berlarian menghindari kejaran kelompok bermasker gas dan bersepatu lars  menodongkan senjata api laras panjang yang siap ditembakkan. Adegan senada juga terlihat ketika  WS Rendra membacakan syair panjang yang berisi kritik tajam terhadap kondisi masyarakat dan pemerintahan.

Sutradara Erros Djarot dalam diskusi pasca pemutaran "Kantata Takwa"

Adegan-adegan lain selanjutnya merupakan rangkaian  dialog/monolog teaterikal  yang  sambung menyambung dengan lagu-lagu yang diambil dari album Kantata Takwa dan Swami.

Menurut Maria Ekaristi, penggagas dan motor penggerak Cinegarden, ada beberapa pertimbangan pemutaran film ini. Pertama, film ini sangat menarik sebagai bahan refleksi bagi para seniman dan pecinta film di Denpasar tentang sekelumit perjalanan bangsa ini di mana pernah dalam sebuah kurun waktu rakyat mengalami represi dari penguasa. Mereka dibatasi secara ketat dalam berekspresi dan bersuara.

Kedua, dari sisi sinematografi, film ini merupakan bahan kajian yang menarik mengenai satu genre film dokumenter di mana pendekatan yang dilakupan pada film ini termasuk yang langka di Indonesia.

Pose bareng pasca pemutaran film 
 
Selain Rendra, Iwan Fals, Sawung Jabo,  Setiawan Djodi, dan Jockie Surjoprajogo pemain dan musisi yang terlibat dalam film ini adalah  Clara Sinta Rendra, para anggota Bengkel Teater Rendra,  Totok Tewel  (Gitar), Nanoe (Bass),  Innisisri (Drum),  Naniel (Flute),  Donny Fattah, (Bass), Budi Haryono (Drum),  Eet Sjahranie (Gitar),  Raidy Noor (Gitar),  Embong Rahardjo, dan (Flute/Saksofon).

Adapun lagu-lagu yang terdapat film ini adalah  Kesaksian, Bento, Hio, Paman Doblang, Bongkar, Kantata Takwa, Air Mata dan Cinta.

Film ini meraih beberapa penghargaan antara lain Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2008  sebagai  Film Dokumenter Terbaik,   Nominasi Film Dokumenter Terbaik  Asia Pacific Screen Awards 2008,  Nominasi dalam Hawaii International Film Festival 2008, Nominasi dalam Osian Cine Fan, New Delhi 2008.**