Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Cine Garden #05 : Film Dokumenter Menghaluskan Watak Anak

Suasana pemutaran 

Film dokumenter dapat menjadi sebuah model laporan riset, baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Dalam dunia akademis kini dikenal laporan ilmiah dalam rekaman audio-visual yang mendorong lahirnya "disiplin" baru antara lain Antropologi Visual. Hal inilah yang mengilhami Robyn Wellwood, pengajar kelas empat SD Dyatmika, Denpasar, untuk menugasi siswanya membuat presentasi laporan hasil riset mereka tentang hal-hal menarik di seputar Tangtu, tempat di mana lokasi sekolah mereka berada. Hasilnya, memang mengejutkan. Anak-anak kelas empat yang diberi pelatihan teknis semalam tiga hari tentang bagaimana membuat rekaman video, mereka dapat mempuat laporan ringkas yang komunikatif. Demikian salah satu butir penting dalam diskusi dalam
Cine Garden #05 bertajuk "Film Dokumenter, Anak-anak, dan Kreativitas", Sabtu (24/5) malam, di Antida Sound Garden Jalan Waribang, Denpasar.

Sebelum diskusi diputar dua  film dokumenter karya anak Dyatmika (Denpasar) yakni “Dangau” dan “Pura Beji”. Dua karya tersebut bersanding dengan karya lainnnya yakni “Nadir” karya siswa SMP Islam Dian Didaktika  (Jakarta) dan “Gender Stereotypes” karya siswa kelas V pada LAMP Kids Short Project (USA).

Sebagian penonton 

"Awalnya anak-anak merasa tidak tahu dan bingung. Tapi setelah memasuki hari ketiga, muncul optimisme bahwa mereka mampu membuat rekaman video. Setelah praktek dan mendapatkan hasil, kami mendapati film telah membuat para siswa lebih fokus dan makin disiplin. Karena film menuntut disiplin.  Tampak perkembangan siswa ke arah lebih positif. Beberapa siswa yang tadinya tidak pernah memberi reaksi atau berinteraksi, saat pelatihan siswa tersebut aktif dan banyak tertawa,"
papar  Robyn.

Menurutnya lagi, setelah terlobat bersama-sama dalam sebuah produksi, para siswa menjadi toleran. Mereka yang tadinya gemar pamer, menjadi mudah berbagi.

Menurut Robyn, jika dikembangkan secara baik dan lebih sistematis, pembuatan film dokumenter dapat membentuk karakter anak menjadi lebih baik dan, tentu saja, menjadi lebih kreatif.

Tentang kreativitas, Noviana Kusumawardhani, seorang pekerja kreatif yang kini bergiat dalam pengembangan Yoga, mengatakan bahwa kreativitas merupakan hal penting dalam kehidupan. Menurutnya, dalam mengasah kreativitas, keberanian untuk melakukan eksplorasi merupakan
modal yang besar dan penting.

Robyn Wellwood  (kiri) dan Noviana Kusumawardhani (tengah) sebagai narasumber.  

"Saat hendak menuangkan gagasan kreatif, kita hendaknya tidak mengekang diri dengan berbagai batasan. Lakukan sebebas-bebasnya. Eksplorasi sejauh-jauhnya. Dengan cara itu kita dapat memunculkan sesuatu yang otentik, bahkan original," papar Novi yang pernah berpengalaman selama 20 tahun bekerja pada departemen kreatif di perusahan periklanan AS. Terakhir, Novi menjabat sebagai creative director pada perusahaan tersebut.

Menanggapi pertanyaan audiens bahwa di dunia ini tak ada yang orisinal, Novi mengatakan bahwa orisinalitas yang dia maksudkan adalah bahwa ketika karya kita bersanding dengan karya lain, dia kukuh sebagai sebuah karya yang otentik dan unik.

Kembali ke soal film dokumenter, Maria Ekaristi yang memandu diskusi menggarisbawahi pendapat bahwa sebagai sebuah media ekspresi film (dokumenter) yang merupakan penggabungan dari beragam disiplin ilmu merupakan media yang sangat baik bagi pengembangan kreativitas anak. Sebab dalam proses pembuatan film (dokumenter) dari sejak pra produksi hingga pasca produksi, terdapat serangkaian aktivitas yang merangsang anak untuk berpikir secara kreatif. Karena itulah beberapa sekolah kini getol menggunakan media ini untuk merangsang kreativitas siswanya.


Di SD Dyatmika sendiri, beberapa bulan lalu telah diadakan pelatihan produksi film dokumenter kepada anak-anak kelas empat yang diisi oleh para praktisi film dokumenter Bali yakni Agung Bawantara, Rio Simatupang, dan Maria Ekaristi.

Info tambahan:
Sebagai orang-orang yang sangat peduli terhadap perkembangan film dokumenter di Bali, Agung Bawantara dan Maria Ekaristi sendiri sebelumnya telah beberapa kali memberi pelatihan kepada anak-anak dan remaja mengenai produksi film dokumenter. Mereka pernah menyelenggarakan pelatihan ke seluruh kabupaten/kota di Bali, memberi pelatihan regular ke beberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP), juga mengadakan pelatihan dan pendampingan yang melibatkan pelajar SMP dan SMA untuk membuat film dokumenter tentang Kota Denpasar sebagai kota pusaka.