Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Cine Garden #04: 136 Jam di Arogya

Suasana pemutaran "136 Jam di Arogya"
Autisme adalah sebuah gejala kejiwaan yang kini semakin banyak ditemukan di masyarakat. Jumlah anak yang mengidap autisme kini semakin meningkat. Yang menarik, mereka berasal dari beragam kalangan tanpa mengenal status sosial. Namun begitu pengetahuan mengenai gangguan kejiwaan ini belum banyak dipahami oleh masyarakat. Di banyak tempat, terutama di kawasan yang masyarakatnya relatif kurang informasi mengenai hal ini, kerap dijumpai para penyandang autisme mendapat perlakuan yang tak semestinya. Bahkan, perlakuan salah itu menjurus pada stigmatisasi bahwa anak autis adalah "penyakit sosial" yang membahayakan lingkungan sekitarnya. Tak jarang akibat stigma tersebut anak-anak autis dipasung hampir sepanjang usianya. Karena itu kehadiran film-film bertema autisme sangat diperlukan untuk mengedukasi masyarakat mengenai hal ini.  

Itulah sekelumit pembicaraan pada diskusi seusai acara Pemutaran Film Dokumenter "136 Jam di Arogya" karya Agung Bawantara yang diselenggarakan oleh Kelompok Pembuat dan Pecinta Film (KPPF) Denpasar di Antida Soundgarden, Jl. Waribang Denpasar, Sabtu (26/4) lalu. Hadir sebagai pembicara Agung Bawantara (Sutradara) dan Ivy Sudjana (aktivis peduli masalah autisme).

Diskusi pasca pemutaran "136 Jam di Arogya"

Dalam diskusi yang dipandu oleh Maria Ekaristi itu, Agung Bawantara memaparkan hal apa yang menjadi alasan pembuatan film dokumenter mengenai autisme tersebut. Ia juga memaparkan pengalaman-pengalaman menarik dan menyentuh  saat menggarap film tersebut.

"Sebagian dari pengalaman tersebut saya paparkan dalam film ini," ucapnya.

Film "136 Jam di Arogya" sendiri berkisah tentang kondisi anak-anak penyandang autisme yang ditangani di Klinik Arogya Mitra, Klaten, Jawa Tengah. Klinik tersebut adalah klinik akupuntur khusus bagi para penyandang autisme dan gangguan syaraf lainnya. Klinik tersebut didirikan oleh Ibu Mariani setelah Edo, putranya, berhasil sembuh berkat terapi akupuntur yang dilakukan secara intensif.

Pada bagian lain, Ivy menyampaikan pesan agar masyarakat mau lebih memahami gejala baru ini dan menerima para penyandang autis sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki hak untuk hidup baik dan meraih masa depan yang cerah.  

Sebaliknya, kepada para orangtua yang memiliki anak autis atau berkebutuhan khusus lainnya, agar tidak malu atau mendinai keadaan anaknya sehingga menutup kemungkinan bagi si anak untuk berkembang lebih baik.

"Akui dan terima saja kondisi berat ini sehingga anda bisa lebih lapang dalam melalukan penanganan dan mencari kemungkinan penyembuhan bagi anak anda," pesannya.


Sebagaimana telah banyak diberitakan, autisme adalah sebuah keadaan yang menyebabkan seseorang tidak mampu berpikir, merasa, dan bertindak dengan baik. Hampir seluruh anak penyandang autisme mengalami ketidakmampuan berbicara, berkonsentrasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Ada banyak spektrum autisme, salah satunya adalah hiperaktif. Seorang anak yang mengidap spektrum ini akan menunjukkan sikap yang sangat-sangat aktif, bahkan terkadang agresif.  

Sejauh ini belum diketahui secara pasti apa penyebab keadaan tersebut. Berbagai teori yang pernah mengemuka belum mampu menerangkan secara pasti sebab musabab autisme.

Di akhir acara, Pigmy Marmoset menghangatkan suasana dengan menampilkan lagu-lagu mereka yang penuh keriangan. Sebagian lagu tersebut telah terkompilasi dalam sebuah album yang baru saja mereka release.**