Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Cine Garden #03 Krisis Air Ancaman Masa Depan Bali

Suasana pemutaran "Danau Gulma"
Setiap sineas yang peduli pada kelestarian lingkungan tanah kelahirannya, pastilah akan tergerak untuk membuat sekecil apa pun karya untuk mengingatkan kepada semua pihak yang terkait bahwa adalah sangat penting menjaga kelestarian lingkungan demi kesejahteraan kita sendiri dan anak-cucu. Itulah yang membuat Oka Sudarsana dan kawan-kawannya terpanggil untuk membuat film dokumenter “Danau Gulma” yang bertutur tentang pencemaran enceng gondok di Danau Batur yang mengakibatkan danau itu mengalami pendangkalan serius. Padahal danau tersebut merupakan sumber air yang merembes dan mengalir ke Buleleng Bagian Timur, sebagian Karangasem, dan hampir semua kabupaten di Bali Selatan. Film tersebut diputar di depan khalayak yang sangat ramai dalam acara Cine Garden #03 yang diselenggarakan oleh Kelompok Pembuat dan Pecinta Film (KPPF) Denpasar di Antida Sound Garden Jl. Waribang, Denpasar, Jumat (7/2/2014).

“Melalui film ini saya mengingatkan bahwa jika Pemerintah dan Masyarakat Bali tidak memberi perhatian serius pada masalah ini, akan terjadi krisis air di Bali Selatan. Dan ini merupakan ancaman besar bagi Bali di masa depan,” paparnya dalam diskusi seusai  pemutaran film tersebut.

Menurut Oka, berdasarkan amatannya selama produksi “Danau Gulma” ketidakpedulian dan ketidaktahuan merupakan faktor terbesar yang menyebabkan kualitas lingkungan di Danau Batur mengalami degradasi.
Adegan dalam "Danau Gulma"

Selain Oka, dalam diskusi yang dipandu oleh Maria Ekaristi tersebut hadir Sastrawan Cok Sawitri  yang memberi wawasan mengenai posisi Danau Batur secara kosmologis dan pengaruhnya dalam kebudayaan Bali.
                                                                               
Cok Sawitri memaparkan bahwa ada sesuatu yang mengikat ‘ingatan’ mengenai hubungan air dengan diri, air dengan manusia, dan air dengan alam sendiri. Menurutnya, Danau Batur sejak berabad-abad lampau telah memberi ‘makanan-minuman’ bagi orang Bali tidak saja dalam pengertian jasmaniah, tetapi juga jasmaniah.

Cok mengutip beberapa sumber untuk memaparkan keutamaan Danau Batur bagi Bali. Satu di antara sumber yang dikutipnya adalah “Rontal Prakempaning Pura Ulun Danu” yang memaparkan tentang fatwa agar segenap Punggawa (Pejabat pemerintah Daerah) di Bali memperhatikan kelestraian Danau Batur yang penanda terpentingnya adalah  Pura Ulun Danu.



Menurut sumber yang  dikutip Cok,  jika seorang raja (pemimpin) lalai terhadap keberadaan Pura Ulun Danu (baca: Danau Batur) mereka akan terkena kutukan Dewi Danu. Negerinya akan boros,  wabah penyakit tidak henti-henti, sang pemimpin  kehilangan wibawa, negeri akan hancur, segala macam tanaman rusak,  percekcokan tak henti-henti.

“Ini merupakan bhisama atau fatwa yang  mengikat ke dalam dan ke luar batin masyarakat Bali. Karena itu Orang Bali tak dapat ingkar terhadapnya,” ujar Cok.

Sebagaimana acara Cine Garden sebelumnya, selain pemutaran dan diskusi film, acara dimeriahkan oleh pementasan musik. Grup musik yang tampil kali ini adalah “Nosstress”, kelompok band anak muda yang tengah naik daun di Bali. Dengan gayanya yang sangat komunikatif di depan lebih dari 200 hadirin yang terdiri dari pembuat dan pecinta film serta para pecinta kesenian lainnya, grup ini menampilkan lagu-lagu bertema lingkungan dan kritik sosial lainnya.**