Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Film Tamu DFF 2015: Air dari Tiga Perspektif Kultur

Blue Gold: World Water Wars (Canada)
Sutradara : Sam Bozzo
Produser: Mark Achbar, Sam Bozzo, Si Litvinoff
Sinematografi: Sam Bozzo
Musik: Thomas Aichinger, Hannes Bertolini
Penyunting : Sam Bozzo
Produksi : 2008
Durasi: 90 menit

Blue Gold: World Water Wars mengkaji implikasi lingkungan dan politik berkait berkurangnya pasokan air di planet ini.  Film ini menyampaikan pesan bahwa  perang di masa depan akan dikobarkan oleh alasan-alasan untuk mendapatkan air.

Film ini juga menyoroti beberapa kisah sukses aktivis air di seluruh dunia dan mengangkat berbagai kasus penting menyangkut air untuk menggerakkan aksi masyarakat.

Film ini memenangi beberapa festival di dunia antara lain meraih CINE Golden Eagle pada CINE Competition 2009, Audience Award sebagai film dokumenter terbaik pada Fort Collins TriMedia Festival 2009, Jury Award sebagai film dokumenter terbaik  pada Newport Beach Film Festival 2009, Film Lingkungan Paling Populer pada Vancouver International Film Festival 2008.

Dhakiyarr VS The King
Sutradara: Tom Murray & Allan Collins
Produser: Graeme Isaac
Penulis Naskah: Tom Murray
Penata Visual: Allan Collins Acs
Penyunting : James Bradley
Penata Musik: Alister Spence
Produksi : Mayfan, 2005


Durasi: 52 menit

Pada 1933, di Pulau Woodah di daerah terpencil timur laut Arnhem Land, Dhakiyarr menusuk mati seorang polisi, Albert McColl yang menahan  istrinya. Bagi Dhakiyarr, tindakan itu sah di tanahnya. Atas saran misionaris, ia pergi ke Darwin untuk menjelaskan tindakan dan pandangan hidup masyarakat di daerahnya kepada Mahkamah Agung Negara Bagian Utara.

Oleh pengadilan Dhakiyarr  dinyatakan bersalah karena telah melakukan pembunuhan dan dijatuhi hukuman gantung. Namun keputusan itu dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi dan Dhakiyarr dibebaskan. Tapi dia menghilang pada hari di mana ia dibebaskan dan keluarganya tidak pernah mengetahui apa yang terjadi padanya.

Film dokumenter ini merekam perjalanan Suku Yolngu mencari jejak Dhakiyarr. Dalam perjalanan mereka, orang-orang Yolngu berhadapan dengan pemerintah yang “melecehkan” Dhakiyarr dan dengan keturunan Constable McColl.

Ini adalah kisah inspiratif penyembuhan dua undang-undang, dua budaya, dan dua keluarga yang datang untuk berdamai dengan masa lalu.

Film ini telah diputar di beberapa stasiun televisi dan lebih dari 20 festival film di dunia termasuk  Sundance Film Festival, Taiwan Peace Film Festival,  Jakarta International Film Festival,  Human Rights Medal and Awards,  dan London Australian Film Festival.


It’s a Beautiful Day
Sutradara: Tonny A. Trimarsanto
Produser: Tonny A. Trimarsanto
Produksi : Rumah Dokumenter
Durasi:  22 menit

It’s a Beautiful Day adalah hari ketika kita masih bisa berpikir tentang masa depan air. Hari yang indah ketika kita harus memilih. Apakah kita tidak membutuhkan air saat ini. Berapa lama kita akan membutuhkan air? Berapa lama air masih dapat diakses untuk semua? Sulit untuk menjawab pertanyaan ini. Orang Bumi masih tergantung pada air. Air menjadi komoditas untuk dijual. Harganya lebih mahal. Banyak orang sangat tergantung dari air. Apakah kita menyadari bahwa harga satu liter air akan lebih mahal daripada bahan bakar di mesin? Apakah kita memberikan pemberitahuan bahwa tanah ini telah dijual kepada investor, karena mengandung sumber berlimpah air? Lalu, apa yang terjadi dengan masa depan air?

Film ini berkisah tentang seorang pelukis wayang beber kontemporer dari Solo, Jawa Tengah - Dani Iswardana dan Agung Priyo Wibowo yang memiliki  kecemasan  tentang masa depan air.