Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Bidikan Lima Fotografer Ramaikan Denpasar Film Festival 2016

Salah satu foto karya Wirasathya Darmaja 
Semerbak harum asap dupa memenuhi ruangan di Lingkara Photography Community, Denpasar, saat Adi Pranata dari komunitas Manubada mementaskan tari topeng yang mengadopsi Dalem Sidakarya. Tari topeng itu sebagai pembuka rangkaian kegiatan Denpasar Film Festival (DFF) 2016 bertema 'Air dan Kehidupan' yang diawali pameran foto esai oleh Project 88.

Direktur DFF Agung Bawantara mengatakan Project 88 memperkenalkan metode memahami film dokumenter dari akarnya, yakni fotografi. "Delapan foto dan delapan alinea berisi sudut pandang perekam visua," kata Agung kepada Tempo, usai pembukaan DFF di Lingkara Photography Community, Denpasar, Selasa, 16 Agustus 2016 malam.

Metode ini, kata Agung, dipakai karena selama proses membuat film dokumenter kerap permasalahan dasar seperti ide cerita, teknis kamera hingga struktur pada produksi pertama mereka,

Lima fotografer yang menampilkan karyanya dalam Project 88 adalah I Wayan Martino, Wirasathya Darmaja, Pande Parwata, Dodik Cahyendra, dan Wayan Parmana. Dari masing-masing lensa kamera mereka, dihasilkan karya visual tentang tema DFF, 'Air dan Kehidupan'.

Martino menampilkan foto yang berlokasi di Sungai Tukad Petanu, Desa Semampan, Kecamatan Blahbatu, Gianyar. Tukad Petanu juga dikenal sebagai tempat penambangan ilegal. Delapan foto itu berkisah tentang ironi pengambilan batu paras di Sungai Petanu sebagai bahan dasar membuat patung Dewa Wisnu.

Pembukaan Pameran Project 88 di Lingkara Photography Community
Menurut Martino, pendangkalan sungai akibat sisa bongkahan paras menarik untuk disorot. "Dewa Wisnu sebagai pemelihara kehidupan dan penguasa air, orang Bali memuja Dewa Wisnu membuat pelinggih dari batu paras di Tukad Petanu. Tapi tidak disadari aktivitas penambangan paras justru mencemari lingkungan (sungai)," katanya.

Dodik Cahyendra lewat delapan fotonya membawa pengunjung masuk dalam sebuah ruang refektif 'Jika Tidak Ada Air' sesuai judul karya visualnya. Ia memajang foto-foto yang memperlihatkan dampak jika manusia kekurangan air. "Manusia bisa merasa cemas, marah, stres, begitu juga dunia. Manusia juga simbolisasi dunia," ujarnya.Sebelum menggarap karya visualnya, ia melakukan riset, seperti quesioner untuk 30 orang, termasuk melakukan wawancara dengan pakar kesehatan.

Adapun Pande menampilkan suguhan cerita tentang kehidupan single parent bernama Jero Sekar warga Desa Peliatan, Kecamatan Ubud yang menghidupi tiga anaknya dengan berjualan air. Air yang dijual, ujar dia, adalah air kum-kuman, yakni air yang mengalami proses pengasapan sebanyak sembilan kali. "Air kum-kuman digunakan untuk sarana ritual keagamaan masyarakat Hindu di Bali," ujarnya.

Wayan Parmana memajang foto-foto karyanya tentang air sebagai hiburan dan sumber ketenangan manusia. "Sekedar bertemu gemericik air dan udara segar bisa mengembalikan diri pada kesadaran baru," tuturnya. Itu sebabnya, kata dia, foto-foto yang ia tampilkan berjudul 'Titik Nol'. Lokasi pengambilan gambar dilakukan di lima tempat, yaitu Danau Beratan Bedugul, Pantai Canggu, dan tiga air terjun, Tegenungan, Tibumana, Kanto Lampo.|
Sedangkan Wirasathya, tampil beda dalam presentasi karya visualnya. Tidak seperti empat fotografer lainnya yang memajang bingkai foto di dinding, Wirasathya menampilkan foto-foto bidikannya dengan cara digantung. "Konsepnya dibentuk labirin, supaya orang-orang bisa sambil berjalan menikmati cerita foto," tuturnya.

Pemuda asal Kuta ini menjelaskan foto-foto yang ia tampilkan berlokasi di Pantai Pandawa, Desa Kutuh, Kabupaten Badung. Ia menyoroti transisi petani rumput laut yang beralih profesi sebagai penyedia jasa sewa kano.

"Di tempat asal saya Kuta, pariwisata tidak ada manfaat yang baik bagi warga lokal. Sedangkan di Pantai Pandawa, setelah pariwisata masuk justru memperbaiki perekonomian warga setempat," ujarnya. Ia mencontohkan Yasa, seorang petani rumput laut yang kehidupan ekonominya membaik setelah beralih profesi menyewakan kano.

"Penuturan Pak Yasa, bibit rumput laut memang sudah tidak bagus dan sering gagal panen. Sebelumnya, penghasilan Pak Yasa sebagi petani rumput laut selama tiga bulan mendapat Rp 6,5 juta. Sekarang, perbulan Rp 6,5 juta," katanya.

Sumber: Tempo