Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Pelatihan Produksi Film Dokumenter 2014

Faozan Rizal menerangkan pelajaran
Seperti tahun-tahun sebelumnya,  rangkaian penyelenggaraan Denpasar Film Festival diisi dengan pelatihan produksi film dokumenter yang menghadirkan para instruktur yang mumpuni di bidangnya masing-masing. Namun, berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya yang menyasar kalangan umum dan professional, kali ini pelatihan ditujukan bagi pelajar SMP dan SMA. Hal ini selain karena diniatkan untuk menumbuhkan benih-benih baru dalam perfilman, juga bersisian dengan niat Pemerintah Kota Denpasar yang hendak menyertakan duta-duta kreatifnya  dalam lomba film dokumenter tentang kota pusaka yang diselenggarakan oleh  Organization of World Heritage City (OWHC).

AS Laksana memberi materi metode penulisan

Karena dipandang strategis, Lomba Film Dokumenter ini mendapat perhatian dan arahan khusus dari Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra.  Sebab, menurut Walikota,  ada dua hal penting yang dapat diraih sekaligus dalam mengikuti lomba film dokumenter ini. Pertama, dapat semakin memperkenalkan Kota Denpasar di ajang Internasional. Kedua, memacu gairah para remaja pecinta film di Kota Denpasar untuk berkarya dengan standar internasional.

“Pada saatnya kedua hal tersebut akan berpengaruh pada kemakmuran Kota Denpasar,” papar Rai Mantra saat memberi arahan.

Menurut Walikota, penyaringan harus dilakukan sedemikian rupa yang merupakan kombinasi antara pembinaan, penyeleksiaan, dan penggalangan komunitas kreatif.  Dengan cara itu  Pemerintah Kota tidak hanya sekadar mencari materi jadi, tetapi membinanya sejak masih berupa benih.

“Seperti itulah semestinya bibit-bibit  kreatif ditemukan dan dibesarkan,” imbuh Walikota sembari memaparkan bahwa setelah benih-benih kreatif tersebut mandiri, pembinaan dilanjutkan kepada benih yang baru. Begitu seterusnya secara berkesinambungan.

Suasana Pelatihan 

Maka berdasar arahan Walikota itu, panitia pelaksana pun menyelenggarakan yang mengombinasikan edukasi dan kompetisi. Mula-mula calon peserta yang merupakan pelajar SMP dan SMA di Kota Denpasar diwajibkan  untuk mengirimkan sinopsis karya yang akan mereka buat. Sinopsis tersebut harus mengangkat tema Pusaka Budaya di Kota Denpasar semisal keberadaan tarian sakral, situs kuno, pasar tradisional, tekstil tradisional, kelompok tari tradisi, layangan, dan lain sebagainya. 

Semua sinopsis yang masuk dinilai oleh tim kurator dan berdasarkan penilaian tersebut, peserta yang dianggap layak diberi pelatihan Produksi Film Dokumenter yang  diselenggarakan pada 11-13 April 2014, dengan instruktur utama Faozan Rizal dan AS Laksana. Faozan Rizal  adalah Sutradara Film “Habibie-Ainun” sedangkan  AS Laksana adalah Penulis Buku Fiksi Terbaik Indonesia 2014 versi Majalah “Tempo”.

Setelah mendapat pelatihan,  para peserta diwajibkan untuk memproduksi sinopsis mereka masing-masing menjadi sebuah film dokumenter pendek berdusrasi 2-5 menit. Dari setiap kategori akan dipilih tiga pemenang  di mana  juara pertama pada masing-masing kategori akan mewakili Kota Denpasar dalam Lomba Film Dokumenter Internasional yang diselenggarakan OWHC.

Peserta dan Panitia seusai pelatihan


Tentang OWHC, lembaga ini didirikan pada tanggal 8 September 1993 di Fez, Maroko. Organisasi merangkum  250 kota yang didalamnya terdapat situs budaya maupun bentang alam  yang tercantum dalam daftar Warisan Dunia UNESCO.  Dalam Organisasi ini setiap  kota diwakili oleh Walikota.  Di Indonesia ada dua kota yang terdaftar sebagai anggota OWHC yakni Surakarta dan Denpasar.**

Instruktur Pelatihan Produksi Film Dokumenter 2014 A.S. Laksana
Lahir di Semarang, Jawa Tengah, 25 Desember 1968. Ia adalah seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan Indonesia yang dikenal aktif menulis cerita pendek di berbagai media cetak nasional di Indonesia. Pernah kuliah di jurusan Bahasa Indonesia IKIP Semarang dan Jurusan Ilmu Komunikasi  Fakultas Ilmu Sisial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
 A.S. Laksana pernah menjadi wartawan Detik, Detak, dan Tabloid Investigasi. Selanjutnya,  mendirikan dan mengajar di sekolah penulisan kreatif “Jakarta School”. Kini ia aktif di bidang penerbitan. Kumpulan cerita pendeknya yang berjudul “Bidadari yang Mengembara” terpilih sebagai buku sastra terbaik 2004 versi Majalah Tempo.  Sembilan tahun kemudian, “Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu” kembali terpilih sebagai buku sastra terbaik oleh majalah yang sama.
 Bukunya yang lain antara lain “Creative Writing: Tips dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel” (Mediakita, 2007); “Podium DeTIK” (Sipress, 1995); dan Skandal Bank Bali (DeTAK, 1999). Faozan Rizal
Kelahiran Tegal, Jawa Tengah, pada 1973  ini adalah satu dari sedikit pembuat film Indonesia yang sungguh-sungguh mencintai media film. Faozan Rizal belajar sinematografi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia telah membuat banyak film pendek dan panjang, baik film cerita maupun dokumenter, untuk menggali kekayaan tekstur film serta bermain-main dengan ketegangan antara film dan fotografi. Ia juga membuat film-film tari bersama Katia Engel dan bekerjasama dengan seniman alam  Andy Goldsworthy. Karya Faozan Rizal menunjukkan manusia dan alam dalam kesunyian yang meditatif. Ia sendiri telah mempelajari tari Jawa klasik dan Bali, menekuni pendidikan seni lukis dan kemudian masuk sekolah film di La Femis, Paris. Karya-karya Faozan Rizal telah ditampilkan dalam berbagai festival internasional seperti Singapore International Film Festival, eKsperim[E]nto Film & Video Festival 2004 Filipina, Cinemanila International Film Festival dan Emirates Film Competition. Film cerita panjang pertamanya untuk bioskop sebagai sutradara, Habibie & Ainun (2012), tak hanya berhasil secara teknis dan estetika tetapi juga mendulang sukses komersial luar biasa.