Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Para Sutradara Film Unggulan Denpasar Film Festival 2014 Kategori Umum

Achmad Ulfi
Di kalangannya, kelahiran Purbalingga, 3 Juli 1997 ini dikenal pendiam. Namun semua rekannya mahfum bahwa pelajar SMA Kutasari Purbalingga ini memiliki kemauan yang sangat keras untuk menguasai segala hal ihwal mengenai produksi film. Karena itu ia bergabung dengan Papringan Pictures,  nama dari ekstra kulikuler sinematografi  di SMA yang bersangkutan. Saking getolnya,  ia tergolong anggota yang paling aktif sehingga ketika kesempatan terbuka, ia pun didapuk sebagai ketua dari ekstra kurikuler tersebut. Sejak itu Ulfi, demikian ia akrab disapa, semakin mantap dalam proses membuat film. Bahkan, pelajar yang kini duduk di kelas XII itu menjadikan film sebagai hobi utamanya.  Selain “Penderes dan Pengidep”, film lain yang telah ia produksi adalah “Gang Selingkuh” (fiksi)  yang ia produksi bersama teman-temannya pada 2013.

Andi Hutagalung
Kelahiran Ajamu, 5 Oktober 1979, ini adalah alumni jurusan Planologi Institut Teknologi Medan (ITM). Mulai belajar dan menggeluti media audio visual di Bitra Media Sindycation (BMS) pada 2006. Sekarang bekerja pada mediaidentitas.co.id.

Sebagai  pembuat film dokumenter Andi Hutagalung pernah memenangi berbagai penghargaan.  “Ulos Batak untuk Indonesiaku” menjuarai  Festival Film Pendek Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Utara  2009, “Go Green With Mangrove” memenangi  Source of Indonesia  2010, “Opera Batak” tampil sebagai juara II  Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2011, “Permata di Tengah Danau” dinobatkan sebagai film terbaik FFDB @012 dan The SBM (School Broadcasting of Media) Golden Lens Internasional Documentary Film Festival, 2012.

Di tengah kesibukannya bekerja, Andi Hutagalung menyempatkan bersama teman-temanya membangun Komunitas Film Sumatera Utara (KOFI SUMUT).

Ari Y. Mendrofa
Alumni jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Maranatha Bandung ini belajar media audio-visual secara otodidak. Meski begitu,  sejak 2011 ia sudah dengan tegas menetapkan diri untuk secara serius menekuni produksi film, khususnya film dokumenter. Ketertarikannya pada dokumenter berawal ketika ia selama setahun menjadi kontributor foto  pada “Warisan Indonesia”, sebuah majalah tentang seni dan budaya Indonesia.  Setelah sempat membuat “Gift To Beloved Dad” (Film Pendek, 2011) dan “Gambara Photo Award Flores Bangkit” (TVC, teaser dan video dokumenter, 2012), Ari memproduksi “Apa Kabar Potehi” (Film dokumenter, 2014). Ari sangat menyukai traveling dan antusias untuk mendokumentasikan keragaman etnis, budaya, serta kearifan lokal di Indonesia.


Pande Gede Wisnu Wijaya
Kelahiran Metro, Lampung, 8 Februari 1991, ini adalah Sarjana Desain Komunikasi Visual dari Fakultas Seni Rupa (FSR) Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Sejak Februari 2013 aktif sebagai Art Director pada Trengginas Artvertentie, sebuah komunitas perfilman di Yogyakarta, sembari melanjutkan pendidikan pada program Desain Grafis Pascasarjana ISI Yogyakarta. Sebagai peminat kebudayaan Nusantara, Pande menjadi partisipan aktif dalam “Dieng Culture Festival #5 2014”, sebuah  acara budaya tahunan masyarakat Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. “Tapis Temakai Adat Bubay” adalah film dokumenter yang ia buat karena ketertarikannya untuk melestarikan nilai-nilai kearifan lokal dalam tradisi pembuatan tekstil di tanah kelahirannya, Lampung.


Vicky Hendri Kurniawan
Lahir di Banyuwangi 16 Maret 1991. Saat ini sedang berstudi di Program Studi Film dan Televisi Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Tertarik pada produksi film sejak 2009 saat terlibat dalam Praktik Kerja Profesi semasa berstudi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di mana saat itu ia ditempatkan di salah satu televisi lokal di Surabaya. Pada 2010 Vicky mulai memproduksi film pendek bersama teman-teman kuliahnya.  Karyanya dokumenter pertamanya, “Macaca Fascicularis – Di Balik Tabir Monyet Ekor Panjang” (2013),  terpilih dalam 11 Film Unggulan  Denpasar Film Festival (DFF) 2013.  Hal itu memberinya semangat untuk terus berkarya dalam film dokumenter dan lahirlah film dokumenter berikutnya bertajuk “Tumiran”.