Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Kurator Denpasar Film Festival 2013

Erick Est lahir di Lhoksemawe, 7 Februari 1980. Ia adalah sutradara klip video dan film cerita yang memenangi berbagai penghargaan   antara lain Sutradara Terbaik Festival Film Independen Indonesia 2003 (Kenapa Aku), Short Movie Festival 2003 (Telat), Insight Independent Film Festival, Australia 2003.

Dalam 15/15 Festival Film Australia 2004 karya Erick yang berjudul  Rapuh meraih nominee sebagai Sutradara Terbaik, Penata Sinematografi Terbaik, dan Editor Terbaik. Film ini kemudian dinobatkan sebagai Film Indonesia Terbaik dalam ajang tersebut. Karya Erick yang lain antara lain: Terakhirku, Junkie, Gempa Yogyakarta, Kenapa Aku, Rumah Baru, dan Superman is Dead.

Erick adalah tokoh penting dalam perjalanan festival film dokumenter ini. Sejak awal dia turut terlibat dalam memberikan pelatihan di seluruh Kabupaten/Kota di Bali. Pada Festival Film Dokumenter Bali (FFDB) 2012  Erick  adalah satu di antara tiga kurator yang melakukan seleksi awal karya-karya peserta lomba.


Soma Helmi  lahir di Bali tapi tumbuh dan besar  di dua tempat: Australia dan Amerika Serikat. Sejak 2009 Soma memutuskan menekuni  pembuatan film setelah bertahun-tahun bergiat sebagai Art Director untuk website, iklan dan fotografi.

Film pendek debutannya, The Angel and Rajapala  memenangi kompetisi film pendek pada Festival Film Internasional Balinale 2009. Kini, karya-karyanya telah diputar di berbagai festival film seperti Sundance Film Festival, Anchorage Film Festival, WOW Film Festival - Sydney, dan Short & Sweet Festival Film - London.

Pada film  Life in a Day, Soma bertindak sebagai co-director dari sutradara pemenang Academy Award, Kevin Macdonald. Film tersebut  diproduksi oleh Ridley Scott dan YouTube.  Pada premier yang digelar di Teater Eccles, Sundance, film ini mendapat sambutan hangat. Tiket terjual habis dan tepuk tangan sangat meriah. Di sela pemutaran film yang sangat sukses itu, Soma diwawancarai oleh sejumlah media termasuk Kantor Berita Dunia ABC bersama Diane Sawyer.

Saat ini, Soma sedang menggarap beberapa film pendek, video musik, dan film fesyen. Untuk semua itu, ia  melakukan perjalanan antara Bali, Australia, dan Amerika Serikat.


Putu Kusuma Widjaja adalah lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang melanjutkan studi pada  Film Academie Amsterdam. Selepas menyelesaikan studi pada 1994 Kusuma Widjaja bekerja di sebuah stasiun televisi swasta nasional. Di sana ia berkarir sebagai pegawai selama sepuluh tahun, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dan berdiri sendiri.

Sebagai sineas, Kusuma Widjaja pernah terlibat dalam berbagai produksi film antara lain dalam film layar lebar “Under The Tree” arahan sutradara Garin Nugroho,  serial televisi antara  “Lupus”, “Dua Dunia”, “Tirai Sutra”, “Disaksikan Bulan” dan “Fantasi”.

Begitu pulang ke Bali, Kusuma Widjaja bekerja sebagai penulis skrip dan editor di sebuah rumah produksi di Ubud, Jungle Run. Di situ ia sempat terlibat dalam pembuatan film dokumenter mengenai wabah flu burung, juga dalam pembuatan film dokumenter tentang masyarakat suku Komoro di Papua.  Beberapa film karya Kusuma Widjaja seperti "On Moter's Head", berhasil menembus Amsterdam Documentary film Festival (IDFA) dan Rotterdam Film Festival.
  
Kini Kusuma Widjaja menetap di Lovina, sebuah  tempat yang sangat indah di Bali utara.