Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

"Denok & Gareng" dan "In My Father's Country" Film Tamu denpasar Film Festival 2014

"Denok & Gareng" karya Dwi Sujanti Nugraheni"
Denok & Gareng
Durasi: 89 menit
Naskah/Sutradara: Dwi Sujanti Nugraheni
Sinematografi: Kurnia Yudha
Penata Suara: Abdi Kusuma Surbakti
Penyunting:  Gregorius Arya Dhipayana
Produser: Dwi Sujanti Nugraheni
Ko Produser: Susann Schimk & JörgTrentmann
Produksi: Jawa Dwipa Film / kredo: Film GmbH ©2012  didanai oleh Goethe Institut Indonesien, The Ford Foundation, Dewan Kesenian Jakarta, Tembi Rumah Budaya

Bertahun-tahun menjadi tunawisma di jalan-jalan Jogjakarta, Denok dan Gareng menikah dan ingin memulai hidup baru yang mapan. Mereka memulai langkah dengan kembali ke Ibunda  Gareng dan berjualan anak babi. Selanjutnya keduanya menghadapi tantangan baru setiap hari. Tak gentar, Denok dan Gareng terus berupaya, berharap, dan tertawa.

Ketika tantangan muncul dan upaya mereka gagal, mereka tak berhenti. Seperti Sysiphus, keduanya menyusun rencana baru dan  berupaya lagi.  Begitu seterusnya. Dalam suka dan duka itu, Denok dan Gareng tetap bersatu dalam sebuah keyakinan bahwa suatu hari bukit impian mereka pasti terwujud. Itulah yang membuat keduanya selalu tabah menjalani ujian demi ujian bagi pertautan cinta mereka.

"In My Father's Country" karya Tom Murarry
 

In My Father’s Country
Penulis/Sutradara: Tom Murray
Produser: Graeme Isaac
Co-producers: Tom Murray & Amy Frasca
Sinematografer: Leonard Retel Helmrich
Penyunting: James Bradley ASE
Musik: Alister Spence
Penata Suara: Liam Egan
Sound Mix: Phil Judd
Penerjemah: Merrkiyawuy Ganambarr, Will Stubbs
Durasi:  80 menit


Di satu sudut amat terpencil di wilayah Arnhem Land Utara, Australia terdapat sebuah komunitas adat yang nyaris tak dapat diakses oleh siapa pun. Di suku itu, seorang anak laki-laki akan segera menjadi seorang pria. Ayahnya telah menyampaikan kepadanya bahwa upacara inisiasi akan segera dilaksanakan. Film ini mendokumentasikan momen langka dan intim dalam kehidupan keluarga di komunitas adat yang terpencil itu.

Menghadapi tekanan politik pemerintah yang berniat menghapuskan masyarakat yang “bernilai ekonomi rendah”, komunitas kecil ini  melakukan yang terbaik untuk mengintegrasikan pemahaman leluhur dengan tuntutan hidup di era globaisasi abad ke-21.

Di
paparkan secara simultan melalui mata seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun dan seorang sesepuh masyarakat setempat, film ini mengajak kita untuk menyaksikan dunia asli salah satu komunitas yang paling sulit diakses di Australia. Sebuah kisah perlawanan sosial yang belum pernah difilmkan begitu kuat sebelumnya.