Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Cine Garden#01: Mural Sebagai Seni Publik dan Perlawanan

Adegan dalam "The Man Comes Around"


Selain berfungsi untuk memberikan suasana baru di dalam kota, visualisasi mural juga memberi dampak lain kepada masyarakat yang melihatnya, yakni semacam pendidikan sosial dan pembelajaran ide-ide tentang kesenirupaan. Sebagai sebuah komunikasi sosial mural dapat menyampaikan berbagai gagasan yang mengekspresikan aspirasi rakyat. Ia merupakan media yang sangat mudah dan murah untuk digunakan sebagai salah satu instrumen komunikasi publik.

Suasana Pemutaran "The Man Comes Around"
Dengan karakter media yang dinamis, mural dapat memperlancar komunikasi publik dalam proses penguatan masyarakat. Para penguasa kota yang baik dan tidak korup, biasanya tak begitu bermasalah dengan keberadaan mural di sudut-sudut kotanya. Mereka justru cenderung memberi ruang yang cukup luas bagi keberadaan seni ini sebagai upaya untuk menjinakkan benih-benih vandalisme dalam masyarakat. Para penguasa-penguasa yang curanglah yang biasanya terusik pada seni mural. Berlindung di balik gaya konservatisme mereka memberangus keberadaan mural sebagai salah satu bentuk vandalisme yang harus disinggkirkan jauh-jauh. Sejatinya, mereka tak tahan dengan ungkapan-ungkapan atau pun sindirian-sindiran yang terkandung di dalam karya-karya itu. Sebagian dari mereka bahkan khawatir ekspresi di dalam mural dapat memicu gerakan yang menggoyahkan kewibawaan dirinya.
Kesederhaaan pilihan gaya ucap dalam sebagian besar mural membuat pesan yang terkandung di dalamnya cepat dipahami oleh masyarakat. Hal itu membuat  masyarakat dapat dengan cepat dapat merumuskan sikap apakah akan menuruti pesan itu atau tidak. Sebagai contoh, mural yang mengampanyekan pesan anti kekerasan, langsung dapat menangkap pesan itu dengan mudah. Begitu pun pesan tentang anti-korupsi,  kepedulian terhadap Orang Dengan HIV/AIDS, dan sebagainya.
Sebagian Penonoton
Demikian beberapa poin penting yang tercetus dalam diskusi tentang Seni Mural usai pemutaran film “The Man Comes Around” karya sutradara Adih Saputra (Yogyakarta) di Antida Sound Garden, Sabtu (11/1) lalu. Film ini sendiri berkisah tentang “Anti Tank”, sebuah kelompok warga Yogyakarta yang menekuni street art sebagai ekspresi kepedulian mereka pada negaranya. “Anti Tank” sangat gencar mengutarakan opininya mengkritik Pemerintah dengan menampatkan poster-poster mereka di ruang-ruang publik. Mereka tak gentar menghadapi berbagai hambatan, berupa ancaman dan intimidasi. Film berdurasi adalah salah satu karya terbaik Denpasar Film Festival 2013. Pada ajang tersebut film ini dinobatkan sebagai film yang menadapat Penghargaan Khusus Dewan Juri.

Banner di halaman depan Antida Sound Garden

Tentang Seni Mural
Mural adalah lukisan berukuran besar yang dibuat pada dinding (interior ataupun eksterior), langit-langit, atau bidang datar lainnya. Kata muural sendiri berasal dari kata ‘murus’ (Bahasa Latin) yang berarti dinding. Mural telah dikenal jauh  sebelum peradaban modern.  Diduga bentuk ekspresi ini telah dimulai sejak 30 ribu tahun sebelum Masehi yang ditandai dengan sejumlah gambar prasejarah pada dinding gua di Altamira (Spanyol) dan Lascaux (Prancis) yakni  lukisan aksi berburu, meramu, dan aktivitas religius.  Ini oleh banyak ilmuwan sini  dianggap sebagai bentuk mural generasi pertama.

Di era modern, mural mulai berkembang pada tahun 1920-an di Meksiko. Pelopornya antara lain Diego Rivera, Jose Clemente Orozco, dan David Alfaro. Dalam catatan sejarah Mural, Pemerintah yang menyokong pembuatan mural secara besar-besaran sebagai proyek negara adalah Pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1930. Proyek tersebut bermula dari usulan seniman George Bidle kepada presiden AS Roosevelt untuk membuat seni publik dalam skala nasional  dengan melibatkan pada seniman di negara tersebut.  Maka, pada 1933, lahirlah  proyek mural pertama dengan nama Public Work of Art Project  (PWAP) dan didanai pemerintah negara bagian. Proyek ini berhasil menghadirkan 400 mural dalam tempo tujuh bulan.

Lomba mural di sela acara pemutaran
Pada tahun 1935, Pemerintah Amerika membuat proyek kedua dengan nama Federal Art Project (FAP) dan Treasury Relif Art Project (TRAP) dan berhasil membuat 2500 mural dengan mempekerjakan para penganggur di masa krisis ekonomi. Sukses proyek FAP dan TRAP   ditindaklanjuti dengan program The Work Progress Administrasion’s (WPA) yang diselenggarakan sepanjang tahun 1943. Sayangnya Perang Dunia II meletus sehingga proyek-proyek mural itu terpaksa terhenti.

Tahun 1970-1990 Mural mulai memperlihatkan eksistensinya kembali melalui seorang seniman imigran AS yang bernama Basquiat. Dia secara diam-diam membuat grafiti di setiap sudut-sudut kota dan di stasiun dengan tulisan S.A.M.O. Hal ini kemudian menginspirasi banyak seniman lain untuk berkarya di ruang publik. Salah satu seniman yang terpengaruh adalah Keith Flaring yang kemudian banyak mengerjakan dan dianggap sebagai seniman mural selama kariernya.

Di Indonesia pembuatan mural kerap dipadukan dengan seni graffiti. Walaupun mural lebih mengutamakan gambar dan graffiti hanya tulisan, tetapi ketika keduanya dipadukan  maka kesan seninya menjadi lebih menonjol.

Adih Saputra
Seni mural di Indonesia diawali sejak era pra kemerdekan. Pada masa perang itu  para pejuang mengekspresikan keinginannya melalui grafiti.  Belakangan, muralisasi di kota-kota besar di Indonesia bermunculan sejak diadakanya event Jack@art 2001, yaitu lomba lukis mural yang diadakan komunitas mural di Jakarta. Di Jogjakarta pemerintah kota juga memasyarakatkan mural melalui acara “Sama-sama 2001” yang melibatkan masyarakat Jogjakarta dalam rangka kampanye Jogjaku bersih yang bekerja sama dengan komunitas Apotik Komik. Sedangkan di Solo, mural mulai marak pada saat diadakan lomba seni mural di daerah Kertotiasan, yaitu acara yang dilakukan sebagai ajang untuk menyalurkan hobi bagi anak-anak muda yang suka corat-coret dinding. Hal tersebut juga dimaksudkan untuk mendukung program Pemerintah Kota Solo tentang larangan aksi corat-coret. Di Denpasar seni mural dikembangkan oleh para mahasiswa senirupa Institut Seni Denpasar dengan tokohnya yang paling menonjol adalah Made Bayak.  Sejauh ini Pemerintah Kota Denpasar cukup memberi ruang bagi para perupa mural untuk mengekspresikan gagasannya. 

Penampilan grup musik hip-hop "Gold Voice"
Lomba Mural
Pemutaran “The Man Comes Around” adalah pemutaran perdana untuk program pemutaran film secara regular yang diselenggarkan oleh Antida Sound Garden bekerjasama dengan Kelompok Pembuat dan Pecinta  Film (KPPF) Denpasar. Acara ini sekaligus sebagai peluncuran Denpasar Film Festival (DFF) 2014 yang puncak acaranya akan digelar pada bulan Agustus mendatang. Untuk memeriahkan, serangkaian dengan  acara pemutaran film digelar lomba mural yang melibatkan anak-anak muda Kota Denpasar.  Sebelum sesi pemutaran film,  Gold Voice, tampil dengan amat memukau. Gold Voice adalah salah satu kelompok music hip pop terhebat di Bali. 

The Men Comes Around
Durasi : 26 meit
Produser : Novanda Fibrianti
Sutradara: Adih Saputra
Penata Kamera : Maharani
Penyunting  : Ardini Faradila
Produksi : 2013

Cine Garden #01 
Putar Film: "The Man Comes Around" karya Adih Saputra (Yogyakarta)
Narasumber: Adih Saputra (Sutradara)
Performer: Gold Voice (Hip Hop)
Lokasi: Antida Sound Garden, Denpasar
Waktu: Sabtu, 8 Pebruari 2014

Adih Saputra bersama Anom Antida (tengah) dan para penggerak DFF