Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

12 Film Dokumenter Terpilih Denpasar Film Festival 2013

Adegan dalam 'The Men Comes Around' karya Adih Saputra (Yogyakarta)
Setelah berkutat selama beberapa hari menyermati karya-karya peserta Denpasar Film Festival 2013, Dewan Kurator memeringkat 69 film dokumenter yang masuk itu.  Berdasarkan pemeringkatan oleh para kurator tersebut, Panitia membuat rekapitulasi dan menetapkan “12 Film Terpilih” untuk diajukan kepada Dewan Juri. Jumlah ini melebihi jumlah yang ditetapkan sebelumnya yakni 10  film, karena berbagai pertimbangan, antara lain karena  beberapa judul film di peringkat atas memiliki nilai kembar.

Selanjutnya, Dewan Juri akan menyeleksi lagi film-film hasil kurasi tersebut tersebut untuk memilih lima film unggulan. Satu dari ke-lima film unggulan tersebut nantinya akan dinobatkan sebagai film terbaik Denpasar Film Festival 2013 yang berhak memboyong Trophy DFF beserta uang tunai sebesar 20 juta rupiah.

Adapun ke 12 film terpilih tersebut berturut-turut berdasarkan abjad adalah: Amelia  karya Sigit Purwono (Denpasar), Danau Gulma  karya I Putu Oka Sudarsana (Denpasar), Di Balik Topeng Bondres  karya  Putu Satria Kusuma (Buleleng), Di Batas Kekuasaan karya Nur Fitriah Napiz (Jakarta), Macaca Fascicularis - Di Balik Tabir Monyet Ekor Panjang  karya  Vicky Hendri Kurniawan (Banyuwangi), Orang Laut karya Nur Handoyo (Jakarta), Penutur Terakhir karya Aditya Heru Wardhana (Jakarta), Persona karya George Arif (Jakarta), Pulo Aceh; Surga Yang Terabaikan karya R.A. Karamullah (Banda Aceh), Ragat’e Anak  karya Ucu Agustin (Jakarta), Risalah Van Der Tuuk  karya Irwan Wahyudi (Lampung),  dan The Man Comes Around  karya Adih Saputra (Tangerang).

Film “Amelia” berdurasi   27 menit karya  Sigit Purwono (Denpasar) mengangkat kisah nyata dua bayi kembar siam yang dilahirkan dari pasangan miskin, Ketut Suardana dan Nyoman Sukerini, asal desa Busung Biu, Buleleng, Bali. Kedua bayi kembar ini mengalami dempet di bagian perut dan dada. Satu bayi  menderita hidrocepalus dan kelainan jantung.

Seseaat setelah melahirkan bayinya, kedua orang tuanya sempat tidak boleh melihat si bayi kembar karena mereka tengah dirawat dalam ruangan steril. Bayi kembar siam ini terpaksa harus dipisahkan dengan karena kondisi salah satu bayi sudah sangat kritis. Akhirnya satu bayi dapat diselamatkan, sementara kembarannya meninggal dunia.

Film “Danau Gulma” produksi  Traxvideo, Denpasar, garapan I Putu Oka Sudarsana dan  Agus Wiranata mengangkat peran Danau Batur yang sangat strategis di Bali karena menjadi sumber daya air untuk beberapa kabupaten seperti Buleleng Timur, Karangasem, Bangli, Klungkung, dan Gianyar.

Permasalahan saat ini, di sekitar Danau Batur berkembang pesat Eceng Gondok yang dapat mengakibatkan meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman) karena daun-daun eceng gondok yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat; menurunnya jumlah cahaya yang masuk ke dalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya
tingkat kelarutan oksigen dalam air; serta pendangkalan danau akibat mengendapnya batang eceng gondok yang sudah mati  ke dasar danau.



Film “Di Balik Topeng Bondres”  karya Putu Satria Kusuma mengetengahkan perjalanan grup topeng bondres terkenal, Sanggar Dwi Mekar, yang dipimpin oleh Nyoman Durpa. Grup ini begtu popular di Bali sehingga dalam sehari mereka bisa berpentas sampai dua atau tiga kali. Ada hal yang mencemaskan dari populernya topeng bondres ini yakni  punahnya Topeng Panca yang merupakan dasar pijak dari topeng bondres sendiri.

“Di Batas Kekuasaan” berdurasi  40 menit. Film karya Nur Fitriah Napiz ini  bercerita tentang tiga  warga Jakarta yang memiliki hak pilih dengan latar belakang berbeda dalam menyikapi pemilukada DKI Jakarta 2012. Masing-masing berargumen bahwa pilihan mereka adalah yang terbaik dalam pesta demokrasi ini.

“Macaca Fascicularis - di Balik Tabir Monyet Ekor Panjang” karya Vicky Hendri Kurniawan bertutur tentang monyet ekor panjang adalah hewan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, karena hewan ini sangat pandai beradaptasi. Monyet ekor panjang dapat hidup di berbagai daerah, mulai dataran tinggi hingga dataran rendah. Banyak sekali fungsi monyet terhadap keseimbangan alam, bahkan terhadap kehidupan manusia, tapi sayangnya banyak manusia yang tidak mengerti betapa pentingnya monyet ekor panjang.

Film ini seperti mengeluhkan tidak adanya undang-undang yang melindungi monyet ekor panjang dan minimnya pengetahuan masyarakat Indonesia tentang fungsi monyet ekor panjang membuat keberadaan monyet ekor panjang semakin terancam oleh aktivitas manusia.

“Orang Laut” karya Nur Handoyo mengangkat kisah Suku Bajo di Wakatobi Sulawesi Tengah yang bermukim di lautan. Mereka adalah nelayan-nelayan yang tangguh. Mampu menyelam bermenit-menit tanpa alat bantu. Bayi Bajo lahir, ada ritual memandikan bayi dengan air laut dan melarung tali pusar ke laut. Laut adalah sahabat dan ibu pertiwi yang memberi kehidupan.

Nur Handoyo menuturkan kisah tersebut dengan mengikuti keseharian seorang warga Bajo bernama Tadi, 62 tahun,  yang tinggal di atas rumah panggung di selat Hoga. Pekerjaan Tadi adalah menombak ikan.  Setiap hari, dengan sampan kecil Tadi dan anaknya, La Uda, mengarungi lautan. Keduanya sangat cekatan menghadapi lautan. Bahkan. La Uda sanggup menyelam dan menombak ikan tanpa alat bantu apa pun.

Sementara istri Tadi adalah seorang sandro atau dukun suku Bajo yang membantu ritual memandikan bayi di laut. Dulu suku Bajo punya tradisi melemparkan bayi yang baru lahir ke laut. Tapi kini tradisi tersebut sudah berubah. Bayi cukup dimandikan dengan air laut.

“Penutur Terakhir” karya  Aditya Heru Wardhana mengisahkan tentang seorang gadis yang berusaha mendokumentasikan kosa kata bahasa Ibo, salah satu bahasa daerah di Maluku Utara,  yang terancam punah.

Dengan segala daya upaya, di tengah berbagai keterbatasan, Si Gadis berupaya menyelamatkan salah satu gentong budaya yang menyimpan arti, makna, kearifan lokal, tata cara bertani dan berbagai warisan seni budaya para pengguna bahasa Ibo. Bila bahasa ini punah, maka segala macam tradisi kebudayaan yang berkait dengan bahasa tersebut pun akan lampus.

Saat ini hanya tersisi empat orang penutur Bahasa Ibo.  Mereka semua berusia  di atas 60 tahun. Bila mereka meninggal maka bahasa Ibo pun lenyap dari muka bumi.  

“Persona” karya  George Arif berkisah tentang Rita, seorang aktris teater senior  di Teater Koma, Jakarta. Film ini mengikuti kehidupan Rita, di panggung dan di luar panggung selama enam tahun, sejak tahun 2006.

“Pulo Aceh; Surga yang Terabaikan” berdurasi  27 menit. Film dokumenter karya  R.A. Karamullah  dan  M. Hamzah Hasballah ini  mengisahkan tentang ironi sebuah kampung indah di perairan Samudera Hindia di wilayah Nangroe Aceh Darrussalam. Di kampung yang cantik itu sarana pendidikan dan kesehatan sangat memprihatinkan. Juga hal-hal lainnya yang menyakup kepentingan hidup masyarakat setempat. Hidup dengan segala kesulitan, cukup menempatkan Meulingge, Kecamatan Pulo Aceh; Surga yang Terabaikan.

“Ragat'e Anak” karya Ucu Agustin menuturkan kisah Nur dan Mira yang berjuang untuk memberi masa depan yang lebih baik untuk anak-anak mereka. Keduanya bekerja sebagai pemecah batu. Namun, penghasilan dari pekerjaan yang mereka lakukan sepanjang siang itu tak cukup untuk membiaya hidup mereka, maka pada malam hari keduanya bekerja sebagai pekerja seks komersial di sebuah area prostitusi liar  di Kuburan Cina, Gunung Bolo.

“The Man Comes Around” karya  Adih Saputra menuturkan tentang Anti Tank, sebuah kelompok warga Yogyakarta yang menekuni street art sebagai ekspresi dari kepedulian mereka pada negaranya.
Anti Tank sangat gencar mengutarakan opininya mengkritik Pemerintah dengan menempatkan poster-poster mereka di ruang-ruang publik. Mereka tak gentar menghadapi berbagai hambatan, berupa ancaman dan intimidasi. 

“Risalah Van der Tuuk” karya Irwan Wahyudi berkisah tentang upaya penyelamatan bahasa-bahasa Nusantara yang seyogyanya dilakukan untuk kepentingan bahasa-bahasa itu sendiri, sebagaimana dipesankan dalam  surat H.N. van der Tuuk kepada P.J. Veth, 14 April 1867. 

Seperti telah banyak diberitakan, para Kurator Denpasar Film Festival 2013 adalah Erick Est, Soma Helmi, dan  Putu Kusuma Wijaya. Mereka adalah sineas-sineas muda yang memiliki reputasi internasional. Sedangkan Dewan Juri terdiri dari Dr. Lawrence Blair, Slamet Rahardjo Djarot, Rio Helmi, Prof. Dr. I Made Bandem, dan I Wayan Juniarta.






Catatan Putu Kusuma Wijaya
Kurator Denpasar Film Festival 2013


Selama seminggu lebih menyaksikan film-film peserta festival film dokumenter Denpasar 2013, maka ada sebuah kenyataan yang muncul. Indonesia mempunyai banyak sekali ide-ide mencengangkan yang bisa diangkat sebagai ide menarik dari sebuah film dokumenter. Dalam kurun waktu satu minggu, saya diajak berjalan-jalan ke ujung paling luar pulau Sumatera, dipaparkan masalah-masalah yang ada di daerah itu, kemudian saya diperkenalkan dengan anak di pulau Nias yang ingin sekolah, sampai masuk ke pedalaman pulau Irian untuk bertemu dengan anak-anak Papua yang kekurangan kelas belajar. Ide-ide film dokumenter yang ikut serta dalam festival 2013 ini, kalau boleh mengacungkan jempol, adalah ide-ide kelas dunia. Untung saya bukan Juri Festival, karena saya yakin dewan juri tahun ini akan dibuat pusing menentukan yang terbaik. Panitia harus siap-siap untuk menyediakan snack dan minuman lebih banyak lagi. Sebagai kurator saja, saya mengalami kesulitan untuk menentukan film terakhir yang akan masuk ke dalam sepuluh besar. Ada beberapa film yang tidak saya bisa nilai lagi mana yang layak. Ini menandakan begitu ketatnya persaingan festival kali ini.

Yang memang perlu digarisbawahi di sini, sebuah ide yang bagus tentu tidak menjamin akan menjadi film yang berhasil. Di sinilah letak kendala dari kebanyakan peserta. Mereka tidak tahu harus berdiri di sisi mana? Sebuah film dokumenter bukan saja sebuah laporan perjalanan, bukan saja sebuah reportase, atau memberitahu keunikan sebuah tempat. Film dokumenter sama halnya dengan fiksi akan menarik jika itu tentang manusia. Karakter. Dari seorang karakter inilah lalu pentonon akan digiring mengetahui keunikan sebuah tempat. Hanyut dalam perjuangan seorang untuk menegakkan keadilan, kesewenang wenangan dan bagaimana karakter ini berkonflik. Sebuah film dokumenter yang berhasil apabila di dalamnya ada sebuah konflik. Memang sulit mencari itu. Untuk itulah film dokumenter tidak bisa dibuat hanya dalam satu hari, seminggu bahkan sebulan. Akan jelas terlihat, di dalam film berapa lama sang pembuat menyelesaikan tayangannya.

Makin mudahnya mendapatkan kamera dengan harga terjangkau membuat kita makin mudah membuat shot. Era digital membuat kita tidak teliti membuat shot. Tidak bagus dihapus. Banyak dari peserta yang melakukan setting otomatis dalam shot nya. Ini tentu kesannya amatir. Film dokumenter juga harus mempunyai bahasa sinema. Bahasa gambar yang berbicara. Tidak lagi dikuti dengan narasi yang membabi buta, yang membunuh nilai sinema yang ditampilkan. Ini tentu karena kebanyakan dari para pserta adalah pembuat film otodidak yang terpengaruhi oleh tayangan dokumenter televisi yang memang narasinya berlebihan. Ini menyebalkan sekali. “Buatlah penonton anda lebih pintar dari anda” Kemudian ada sebuah kalimat yang juga harus disikapi “Jangan memberitahu, tapi tunjukkan”

Karena beberapa film dokumenter dibuat dalam sebuah dead line tertentu, maka kecenderungan dari semua peserta adalah dengan wawancara. Sehingga yang penonton dapatkan hanyalah sebuah pemberitahuan. Akan lain hasilnya jika, yang dilakukan oleh si pembuat sebuah adegan. Di sinilah kemudian muncul bahasa-bahasa sinema.

Denpasar Film Festival adalah sebuah wadah yang begitu menjanjikan bagi perkembangan dunia film dokumenter Nasional. Dari penyelenggaraan tahun ini, mudah-mudahan festival ini bisa berkembang menjadi film dokumenter Internasional. Bagi para pembuat yang gigih, sudah saatnya untuk memulai dari sekarang untuk membuat film sehingga tahun depan akan menghidangkan karya-karya yang makin dalam dan sanggup berbicara lebih luas lagi. Bahasa gambar adalah bahasa Internasional. Jika kita bisa tertawa, menangis karena tayangan yang kita buat, orang di belahan manapun akan melakukan hal yang sama. Ini karena hati kita terbuat dari bahan yang sama dan ada darah yang mengalir di dalamnya. Sebagai seorang kurator, sungguh saya dibuat tidak bisa tidur menentukan mana yang layak diserahkan kepada dewan juri. Bagi panitia, percaya atau tidak perdebatan dewa juri kali ini akan sengit sekali, siapa-siap untuk melerai mereka. (Buleleng, Juli 2013).